
Pengamat Ekonomi Pertanian dan Perkebunan Kalteng, Rawing Rambang. (Foto: RRI/aga)
Palangka Raya, HAISAWIT – Sektor perkebunan kelapa sawit diproyeksikan tetap menjadi tulang punggung perekonomian Kalimantan Tengah pada 2026 meskipun menghadapi tantangan penurunan volume produksi akibat agenda peremajaan tanaman secara masif.
Kondisi tersebut dipicu oleh langkah teknis perkebunan yang melakukan peremajaan atau replanting pada lahan produktif. Langkah ini diambil guna memperbarui pohon-pohon yang telah memasuki usia tua serta tidak lagi produktif.
Pengamat Ekonomi Perkebunan Kalimantan Tengah (Kalteng), Rawing Rambang, menjelaskan fenomena ketidakseimbangan antara permintaan pasar yang tinggi dengan ketersediaan stok akibat adanya proses pembaruan tanaman kelapa sawit di wilayah tersebut.
"Nah, kalau dari sisi kelapa sawit, kebutuhan itu selalu meningkat, hanya produksinya yang menurun. Karena produksi kelapa sawit ini kan di Kalimantan Tengah sudah banyak yang replanting," ujar Rawing Rambang, dikutip dari rri.co.id, Minggu (11/01/2026).
Dampak Peremajaan Lahan
Dosen Universitas Kristen Palangka Raya (UKPR) ini menyebutkan bahwa penurunan produksi bersifat otomatis saat lahan mulai ditanami kembali. Pembaruan ini biasanya menyasar pada tanaman yang telah berumur sekitar 20 hingga 30 tahun.
Proses peremajaan dilakukan bertahap dengan porsi sekitar 20 sampai 30 persen dari total luas lahan. Rawing memprediksi keberhasilan pengelolaan ini akan berdampak positif pada kondisi ekonomi dan daya beli warga.
"Nah, kita berharap artinya daya beli masyarakat juga akan meningkat," ucap Rawing Rambang memberikan gambaran mengenai korelasi antara stabilitas sektor perkebunan dengan kekuatan ekonomi rumah tangga petani di Bumi Tambun Bungai.
Menteri Keuangan juga telah memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi nasional berada pada level di atas 6 persen. Target tersebut menjadi acuan bagi daerah untuk menyelaraskan kebijakan sektor unggulan seperti kelapa sawit.
Stabilitas Ekonomi Kalteng
Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola, mengendalikan, serta mengarahkan kebijakan ekonomi. Fokus utama terletak pada koordinasi agar laju pertumbuhan berjalan selaras dengan upaya menekan tingkat inflasi daerah.
Berikut adalah rincian data ekonomi Kalteng yang menjadi landasan proyeksi tahun 2026:
- Pertumbuhan ekonomi Kalteng tahun 2025: 4,71 persen.
- Angka inflasi tahunan Kalteng: 3,13 persen.
- Target pertumbuhan ekonomi nasional: Di atas 6 persen.
Data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di provinsi tersebut masih berada di atas angka inflasi secara tahunan. Selisih positif ini menjadi modal penting bagi Kalteng dalam menjaga stabilitas ekonomi wilayah ke depannya.
Pengelolaan yang tepat terhadap sektor kelapa sawit krusial untuk memastikan inflasi tetap terkendali. Langkah tersebut bertujuan agar angka inflasi tidak melampaui persentase pertumbuhan ekonomi yang sedang diupayakan pemerintah pada tahun ini.***