
GAPKI menandatangani Nota Kesepahaman bersama Asosiasi Pengekstrak Pelarut India (SEA) dan Aliansi Minyak Sawit Asia (APOA) dalam ajang SEA AGM & GlobOil India 2025 di Mumbai, Rabu (24/9/2025). (Foto: GAPKI)
Mumbai, HAISAWIT - Industri minyak sawit kembali mencatat langkah penting melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tiga pihak antara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Pengekstrak Pelarut India (SEA), dan Aliansi Minyak Sawit Asia (APOA).
Kesepakatan itu dilakukan dalam ajang SEA AGM & GlobOil India 2025 yang berlangsung di Mumbai pada 24 September 2025. Penandatanganan MoU ini ditujukan untuk memperkuat perdagangan, mendorong keberlanjutan, serta memperluas keterlibatan petani sawit di kawasan Asia.
Presiden SEA, Shri Sanjeev Asthana, menilai kerja sama ini menjadi tonggak penting bagi industri minyak nabati di India. Ia menyebut perjanjian tersebut akan memberi dampak luas terhadap perdagangan dan stabilitas sektor pangan.
“Kesepakatan ini memastikan akses India terhadap minyak sawit berkualitas dengan harga terjangkau sekaligus membuka peluang kerja sama teknis yang memperkuat stabilitas sektor minyak nabati,” ujar Sanjeev, dikutip dari laman GAPKI, Selasa (7/10/2025).
Ketua APOA, Atul Chaturvedi, juga memberikan pandangan mengenai arti strategis dari kerja sama ini. Menurutnya, kolaborasi dengan GAPKI dan SEA akan memperkuat pasokan sekaligus membuka ruang baru bagi pengembangan industri.
“Bekerja sama dengan GAPKI dan SEA akan menjamin pasokan yang lebih aman, memperkuat kerja sama regional, sekaligus meningkatkan kesadaran konsumen tentang peran minyak sawit dalam pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan,” kata Atul.
Sementara itu, Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menegaskan pentingnya peran India sebagai mitra dagang utama. Ia menyampaikan bahwa Indonesia akan terus mendukung kebutuhan pangan negara tersebut melalui praktik produksi yang bertanggung jawab.
“India adalah salah satu pasar utama ekspor minyak sawit Indonesia dan tetap menjadi mitra terpenting. Melalui sertifikasi ISPO, konservasi hutan, serta praktik produksi yang bertanggung jawab, Indonesia siap mendukung ketahanan pangan India dan tujuan iklim global,” ucap Eddy.
Eddy menambahkan bahwa kerja sama ini membuka peluang sinergi lebih luas. Ia menyatakan GAPKI akan meningkatkan kolaborasi dengan kedua organisasi agar manfaat dari perdagangan sawit dapat dirasakan lebih merata.
“GAPKI siap bekerja sama dengan SEA dan APOA untuk memperluas pasar, meningkatkan inovasi, serta memastikan bahwa manfaat industri sawit mengalir hingga ke petani kecil,” lanjutnya.
MoU yang berlaku selama tiga tahun ini mencakup enam bidang kerja sama. Di antaranya pertukaran delegasi, penguatan perdagangan melalui pameran dan konferensi, berbagi informasi teknis, proyek keberlanjutan bersama, edukasi konsumen, hingga advokasi kebijakan perdagangan.
Sebagai tindak lanjut, dibentuk Kelompok Kerja Bersama yang akan merancang rencana tahunan serta menerbitkan laporan perkembangan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi sawit sebagai komoditas strategis bagi ketahanan pangan India dan kawasan Asia.***