BRIN Siapkan Startup Energi Bersih Berbasis Gas Metana dari Limbah Sawit

Riset BRIN bersama dua perusahaan asal Jepang menghasilkan teknologi baru untuk mengubah limbah sawit menjadi sumber gas metana yang siap dimanfaatkan sebagai energi alternatif. Program ini juga membuka peluang pembentukan startup riset nasional guna memperkuat kemandirian energi berbasis sumber daya lokal Indonesia.

BERITA HAI INOVASI SAWIT

Arsad Ddin

31 Oktober 2025
Bagikan :

Talkshow InaRI Expo 2025 di JIExpo Kemayoran, Rabu (29/10/2025). (Foto: BRIN)

Jakarta, HAISAWIT – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mempersiapkan pendirian startup energi bersih yang memanfaatkan gas metana hasil pengolahan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif pengganti LPG impor.

Langkah ini menjadi bagian dari hasil riset Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN dalam kerja sama dengan dua mitra Jepang, Yachiyo Engineering Co., Ltd. dan Atomis Inc., pada kegiatan Talkshow InaRI Expo 2025 di JIExpo Kemayoran, Rabu (29/10/2025).

Kepala Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Joddy Arya Laksmono, menyampaikan bahwa inovasi penyimpanan gas metana ini dikembangkan untuk mendukung efisiensi energi rumah tangga dengan memanfaatkan sumber daya lokal, termasuk limbah sawit.

“Tekanan gasnya hampir sama dengan LPG, tetapi volumenya bisa mencapai satu setengah kali lipat. Dengan tambahan material MOF, gas metana dapat disimpan dalam wadah yang lebih kecil sehingga lebih mudah didistribusikan,” ujar Joddy, dikutip dari laman BRIN, Jumat (31/10/2025).

Ia menjelaskan, sistem ini memungkinkan penyimpanan gas dalam tekanan rendah namun tetap bernilai ekonomi tinggi. BRIN menargetkan teknologi tersebut dapat diproduksi secara komersial melalui startup berbasis riset pada tahun 2027.

Menurut Joddy, pengembangan inovasi ini masih membutuhkan dukungan regulasi agar dapat diimplementasikan lebih luas.

“Kami sedang berkoordinasi dengan BSN agar segera disusun RSNI, sehingga teknologi ini bisa diterapkan secara luas,” kata Joddy.

Dari pihak mitra Jepang, Hajime Watanabe dari Yachiyo Engineering menyebut kerja sama ini bertujuan mendukung kemandirian energi Indonesia dengan memanfaatkan sumber metana lokal.

“Sebagian besar LPG 3 kilogram di Indonesia berasal dari impor dan membebani anggaran subsidi. Padahal Indonesia memiliki potensi besar dari gas alam, biogas, dan metana. Melalui sistem penyimpanan berbasis kontainer, kapasitas penyimpanan bisa tiga kali lebih besar dari sistem konvensional,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa penerapan teknologi digital menjadi bagian penting dari sistem penyimpanan tersebut.

“Distribusi gas metana dapat dipantau secara real time sehingga efisien dan aman,” ujar Watanabe.

Selain itu, Daisuke Asari dari Atomis Inc. menjelaskan pentingnya penyesuaian material penyerap gas agar sesuai dengan karakteristik metana di Indonesia.

“Penyesuaian ini penting agar proses adsorpsi–desorpsi berjalan optimal sebelum diuji coba ke pasar,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Manajemen Kekayaan Intelektual BRIN sekaligus Ketua Biogas Indonesia, Muhammad Abdul Kholiq, menilai potensi metana dari limbah sawit sangat besar untuk dikembangkan sebagai energi alternatif.

“Limbah pabrik kelapa sawit seperti Palm Oil Mill Effluent (POME) dan Empty Fruit Bunch (EFB), serta sampah perkotaan seperti di Jakarta yang mencapai 7.500 ton per hari, merupakan sumber metana yang sangat potensial,” ujarnya.

Sejumlah peneliti menilai riset pengolahan metana dari limbah sawit dapat membuka peluang kolaborasi antara sektor riset dan industri energi nasional, terutama dalam mendorong pemanfaatan sumber energi terbarukan di tingkat daerah penghasil sawit.***

Bagikan :

Artikel Lainnya