
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono (tengah) saat menjadi pembicara dalam Business Forum: Panel Discussion “Opportunities for Trade and Investment Partnerships in Africa” pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 di Tangerang, Sabtu (18/10/2025). (Foto: Dok. GAPKI)
Tangerang, HAISAWIT – Peluang ekspansi sawit Indonesia ke pasar Afrika kian terbuka lebar. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melihat kawasan tersebut sebagai mitra strategis baru bagi penguatan perdagangan dan investasi sawit nasional.
Upaya memperluas jejaring ekonomi ini ditegaskan melalui forum bisnis bertajuk “Opportunities for Trade and Investment Partnerships in Africa” yang digelar dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 di ICE BSD City, Jumat (18/10/2025).
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menjelaskan bahwa sektor kelapa sawit masih menjadi tulang punggung ekspor nonmigas nasional. Pada 2022 nilai ekspor sawit Indonesia mencapai USD 39 miliar, meski menurun menjadi USD 28 miliar pada 2024.
Eddy menyebut kontribusi sawit terhadap neraca perdagangan tetap signifikan, yakni sekitar 10 hingga 13 persen dari total ekspor nasional hingga pertengahan 2025. Ia menilai, potensi pasar baru di Afrika dapat menjadi penguat ketahanan ekspor di tengah perlambatan global.
“Kerja sama dengan Afrika memiliki nilai historis karena pohon kelapa sawit sendiri berasal dari benua tersebut,” ujar Eddy, dikutip dari laman GAPKI, Jumat (24/10/2025).
Ia melanjutkan bahwa kemitraan tersebut tidak hanya menyasar perdagangan, tetapi juga riset dan pengembangan teknologi sawit.
“Kini saatnya kita membangun kemitraan yang saling menguntungkan dalam pengembangan teknologi, bibit unggul, dan investasi hilirisasi,” tambahnya.
GAPKI bersama pemerintah menyiapkan langkah konkret memperluas jangkauan ekspor ke negara-negara Afrika Timur dan Selatan seperti Tanzania, Kenya, serta Namibia. Upaya ini mencakup kerja sama riset genetik tanaman sawit dan pengembangan produk hilir bernilai tambah.
Afrika menjadi pasar yang terus tumbuh bagi produk olahan sawit Indonesia. Pada 2024, sebagian besar ekspor ke benua tersebut berbentuk refined palm oil, seiring meningkatnya permintaan bahan baku industri makanan dan energi.
Indonesia saat ini memiliki 16,8 juta hektare kebun kelapa sawit dengan total produksi 52,8 juta ton crude palm oil (CPO) per tahun. Sekitar 40 persen dari total areal tersebut dikelola oleh petani kecil, menjadikan sektor ini berperan penting dalam ekonomi pedesaan.
Produksi sawit nasional juga mencatat peningkatan sebesar 11,1 persen pada Juli 2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya konsumsi domestik, terutama untuk kebutuhan biodiesel yang kini melampaui konsumsi pangan.
Selain memperkuat ekspor, GAPKI turut mendorong inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi. Di antaranya melalui penggunaan biofertilizer untuk menjaga kesuburan tanah, penerapan mekanisasi, dan pengembangan precision agriculture yang kini mulai diadopsi di beberapa perkebunan anggota GAPKI.***