
Gambar Ilustrasi Perkebunan Sawit - HaiSawit
Pangkalpinang, HAISAWIT – Industri pengolahan kelapa sawit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menunjukkan tren positif dengan beroperasinya 20 pabrik Crude Palm Oil (CPO) di wilayah tersebut hingga awal tahun 2026.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bangka Belitung memprediksi jumlah investasi pabrik pengolahan ini bertambah dalam waktu dekat seiring adanya minat besar dari para pelaku usaha perkebunan di wilayah kepulauan tersebut.
Kabid Pengendalian dan Fasilitasi Usaha Industri Disperindag Babel, Wira Purnama menjelaskan bahwa saat ini terdapat beberapa entitas bisnis baru yang tengah menyelesaikan tahapan prosedur administratif maupun konstruksi fisik di lapangan.
"Kalau bertambah, kemungkinan di tahun ini (2026). Karena ada tiga perusahaan yang sedang proses perizinan dan pembangunan pabrik," ujar Wira, dikutip dari rri.co.id, Minggu (11/01/2026).
Pemerintah daerah juga melakukan evaluasi ketat terhadap operasional industri besar sepanjang tahun 2025 guna memastikan seluruh aktivitas pengolahan kelapa sawit berjalan sesuai regulasi dan standar teknis yang berlaku.
Wira mengonfirmasi bahwa berdasarkan hasil pengawasan terhadap belasan perusahaan skala besar, mayoritas pelaku usaha menunjukkan kinerja yang sangat baik dalam memenuhi kewajiban dokumen serta aspek legalitas industri mereka.
"Hasil pengawasan kami di 11 perusahaan industri besar masuk kategori kepatuhan tinggi. Artinya secara dokumen hampir lengkap, meskipun ada beberapa catatan kecil. Penilaian ini kami dasarkan pada standar tool dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kepatuhannya tinggi," kata Wira.
Hingga kini, terdapat sekitar 20 entitas yang terdata dalam Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) Babel. Data ini mencakup perusahaan pemegang Nomor Induk Berusaha (NIB) yang sudah beroperasi maupun tahap administrasi.
Sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, kini menjadi pilar penting bagi ekonomi Bangka Belitung. Keberadaan industri pengolahan ini berperan sebagai pendamping utama sektor pertambangan timah yang selama ini mendominasi ekspor daerah.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bangka Belitung, Toto Haryanto Silitonga menyebutkan bahwa penguatan sektor perkebunan sangat krusial untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan daerah apabila terjadi fluktuasi pada komoditas timah.
“Jika terjadi sesuatu dengan timah, surplus perdagangan kita sebenarnya masih tetap terjaga meskipun tanpa timah. Itulah mengapa kita harus memperkuat kedua sektor ini,” ungkap Toto.
Saat ini, komoditas timah memang masih menjadi penyokong utama ekspor Babel karena harga yang stabil. Namun, pertumbuhan industri sawit memberikan jaminan ketersediaan cadangan ekonomi bagi skala ekonomi yang lebih luas.***