Stop Ekspor Sawit Mentah ke Malaysia, Pakar UMS Fokus ke Biodiesel Dalam Negeri

Pakar Ekonomi UMS Anton Agus Setyawan mendorong penghentian ekspor kelapa sawit mentah ke Malaysia melalui percepatan hilirisasi biodiesel. Langkah ini bertujuan memperkuat mata rantai industri dalam negeri dan meningkatkan serapan tenaga kerja nasional.

BERITA

Arsad Ddin

1 Februari 2026
Bagikan :

Pakar Ekonomi UMS, Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si. (Foto: UMS)


Surakarta, HAISAWIT – Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si. mendorong penghentian ekspor bahan mentah kelapa sawit ke Malaysia guna memperkuat struktur ekonomi nasional melalui percepatan program hilirisasi industri.

Langkah strategis tersebut bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri melalui diversifikasi produk jadi. Skema ini menjadi fondasi penting bagi penciptaan lapangan kerja berkualitas serta peningkatan daya saing global Indonesia.

Anton menjelaskan bahwa arah kebijakan pemerintah hingga masa mendatang wajib berfokus pada pengolahan sumber daya alam. Ia menilai pemanfaatan sawit menjadi biodiesel di dalam negeri akan memperkuat mata rantai industri.

“Tema utamanya sampai akhir pemerintahan Pak Prabowo harusnya ke situ (hilirisasi). Kita tidak bisa lagi sekadar ekspor komoditas mentah seperti kelapa sawit ke Malaysia. Kita harus bisa manfaatkan sampai jadi biodiesel di sini, sehingga mata rantai industrinya ada di dalam negeri dan menyerap tenaga kerja kita,” ujar Anton, dikutip dari laman UMS, Minggu (01/02/2026).

Pihaknya mengidentifikasi kendala utama dalam pengembangan industri teknologi tinggi (high-tech) sering kali tertahan masalah pembiayaan. Kehadiran badan pengelola investasi seperti Daya Anagata Nusantara (Danantara) dipandang mampu memberikan solusi pendanaan komersial.

“Ketika saya jadi reviewer untuk penelitian-penelitian yang ujungnya hilirisasi, ratusan loh hasil riset kita itu yang bisa jadi masuk ke industri yang high tech, kemudian PR-nya siapa yang mau membiayai. Kalau Danantara masuk membiayai proyek hilirisasi dan berhasil, investor asing pasti akan ikut masuk. Investor itu logis, kalau lihat ada proyek menguntungkan, mereka akan datang. Ini akan menciptakan pekerjaan berkualitas yang menjamin keberlanjutan ekonomi kita,” paparnya.

Sektor manufaktur berbasis digital dan Internet of Things (IoT) menjadi instrumen penting guna mengatasi angka pengangguran muda. Bank Dunia mencatat satu dari tujuh pemuda di Indonesia saat ini belum bekerja.

Berikut adalah poin utama strategi penguatan industri nasional:

  • Transformasi komoditas mentah menjadi produk bernilai tinggi.
  • Pemanfaatan pendanaan strategis melalui lembaga investasi Danantara.
  • Penguasaan hak cipta serta riset teknologi tinggi.

Anton meyakini bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk mencapai kemandirian pangan dan energi secara mandiri. Pengelolaan tata kelola yang tepat sanggup menekan ketergantungan terhadap fluktuasi harga komoditas global yang tidak menentu.

“Sebenarnya kita punya potensi besar. Asal hilirisasi jalan, kita tidak lagi bergantung pada sektor ekstraktif mentah. Ini langkah progresif untuk memastikan ekonomi kita tumbuh berkualitas,” tegas Guru Besar Ekonomi UMS tersebut.

Pemerintah berupaya melepaskan ketergantungan pada ekspor sektor ekstraktif demi menjaga ketahanan ekonomi masa depan. Integrasi riset perguruan tinggi dengan dunia industri menjadi syarat mutlak dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Lembaga Danantara berperan memberikan sinyal positif bagi investor global mengenai kelayakan proyek di Indonesia. Skema pembiayaan ini berbeda dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena lebih berorientasi pada keuntungan komersial.***

Bagikan :

Artikel Lainnya