
Infografis Palm Saves Water menampilkan data efisiensi air sawit dibandingkan berbagai tanaman industri, disusun oleh PASPI & BPDPKS (2025). (Sumber: gapki.id)
Jakarta, HAISAWIT - Selama ini sawit sering dituding sebagai tanaman boros air dan pemicu kekeringan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa sawit justru memiliki tingkat kebutuhan air yang rendah dibandingkan berbagai tanaman lain di lahan perkebunan.
Sejumlah kajian ilmiah membuktikan bahwa tanaman sawit berperan penting dalam menjaga keseimbangan hidrologi. Efisiensi penggunaan air pada sawit lebih baik dibandingkan dengan tanaman hutan maupun tanaman industri seperti karet, bambu, hingga akasia.
Dikutip dari laman GAPKI, Kamis (9/10/2025), hasil penelitian Coster (1938) mencatat tingkat evapotranspirasi sawit hanya sekitar 1.104 mm per tahun. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan bambu dan leucaena 3.000 mm, akasia 2.400 mm, serta sengon 2.300 mm.
Selain itu, penelitian terbaru juga menegaskan bahwa tingkat transpirasi sawit hanya 0,46 mm per hari. Jika dibandingkan, karet mencapai 2,4 mm per hari, sementara kakao 0,5–2,2 mm, dan hutan primer 1,0–1,7 mm per hari.
Riset lain yang dilakukan Mekonnen dan Hoekstra (2010) menunjukkan jejak air sawit lebih rendah dibandingkan minyak nabati lain. Produksi satu ton minyak sawit membutuhkan air lebih sedikit daripada kedelai, kapas, bunga matahari, maupun rapeseed.
Temuan penting lainnya, sebagian besar kebutuhan air sawit berasal dari air hujan atau green water. Artinya, sawit tidak mengandalkan pengambilan air tanah ataupun air permukaan, sehingga tudingan boros air tidak sesuai dengan data ilmiah.
Daun-daun sawit yang tersusun rapat juga membantu melindungi permukaan tanah dari hujan langsung. Kanopi tersebut mengurangi risiko erosi serta memperkecil limpasan air permukaan yang dapat menyebabkan berkurangnya cadangan air di dalam tanah.
Sementara itu, sistem akar sawit dikenal dalam, berserat, dan menyebar luas. Struktur perakaran ini berfungsi sebagai biopori alami yang meningkatkan infiltrasi air hujan, menahan air lebih lama di tanah, sekaligus menyimpan cadangan air dalam jumlah signifikan.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa sawit memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan air. Indikator seperti evapotranspirasi, transpirasi, hingga water footprint konsisten memperlihatkan efisiensi sawit dibandingkan tanaman lain.
Hasil kajian dari berbagai peneliti menegaskan bahwa sawit bukan penyebab kekeringan. Justru, perkebunan sawit mampu mendukung konservasi air melalui mekanisme alami yang dimiliki, mulai dari kanopi rapat hingga sistem perakaran yang dalam.
Fakta-fakta tersebut memperlihatkan bahwa sawit memiliki peran signifikan dalam menjaga keseimbangan air melalui kanopi rapat dan sistem akar dalam yang menyimpan serta menahan air hujan. Selengkapnya tentang riset dan data ilmiah ini dapat dibaca melalui tautan GAPKI.***