Universitas Terbuka Buka Kuliah Jarak Jauh untuk Anak Sawit Lewat Beasiswa BPDP 2026

Kesepakatan Universitas Terbuka (UT) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia membuka jalan baru bagi anak sawit mengakses pendidikan tinggi. Melalui beasiswa BPDP tahun 2026, kuliah jarak jauh menjadi alternatif yang memungkinkan generasi perkebunan menempuh studi sambil tetap beraktivitas di kampung halamannya.

BERITA

Arsad Ddin

8 Oktober 2025
Bagikan :

Universitas Terbuka bersama APKASINDO menggelar pertemuan membahas kerja sama program beasiswa dan kuliah jarak jauh bagi anak sawit di Jakarta, Rabu (8/10/2025). (Foto: Dok. UT)

Jakarta, HAISAWIT - Universitas Terbuka (UT) siap membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak sawit melalui program beasiswa Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) yang mulai berjalan pada tahun ajaran 2026.

Langkah ini terungkap dalam pertemuan antara Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) dengan Rektor UT di Jakarta belum lama ini. Pertemuan tersebut membahas kerja sama penyelenggaraan kuliah jarak jauh berbasis beasiswa sawit.

Ketua Umum DPP APKASINDO, Gulat ME Manurung, menilai sistem kuliah jarak jauh UT menjadi solusi bagi generasi sawit yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

“SDM Sawit sangat membutuhkan Universitas Terbuka. Model pembelajaran online UT memungkinkan anak-anak petani tetap bisa kuliah tanpa meninggalkan kampung halaman,” ujar Gulat, dikutip dari laman UT, Rabu (8/10/2025).

Mulai tahun depan, APKASINDO akan menggelar sosialisasi program studi UT di 25 provinsi. Upaya ini dimaksudkan agar semakin banyak generasi muda sawit yang dapat memanfaatkan jalur beasiswa maupun jalur mandiri.

Rektor UT, Prof Ali, menyatakan pihaknya segera menyiapkan langkah teknis agar bisa resmi bergabung dalam program beasiswa sawit yang dijalankan BPDPKS dan Ditjen Perkebunan.

“UT sudah terakreditasi A dan memiliki program studi yang relevan dengan kebutuhan sektor sawit, seperti Agribisnis, Akuntansi, hingga bidang manajemen. Kami segera membentuk tim percepatan agar dapat resmi menjadi mitra BPDPKS dan Ditjen Perkebunan mulai 2026,” ungkap Prof Ali.

UT diketahui telah berpengalaman lebih dari empat dekade dalam menyelenggarakan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh. Model ini memungkinkan mahasiswa belajar dari berbagai daerah tanpa terkendala jarak maupun waktu.

Bagi anak-anak petani, kuliah jarak jauh di UT bukan hanya menghemat biaya hidup, tetapi juga memberi kesempatan untuk tetap membantu perekonomian keluarga sambil menempuh pendidikan tinggi.

Selain mendukung peningkatan kapasitas SDM sawit, kerja sama ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, terutama di bidang pendidikan berkualitas dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat perkebunan. Sosialisasi di berbagai daerah akan menjadi tahap penting dalam memperkenalkan pilihan kuliah jarak jauh berbasis beasiswa bagi anak sawit.***

Bagikan :

Artikel Lainnya