
DPW APKASINDO Provinsi Riau hadir sebagai pemateri dalam kegiatan Pembekalan Matrikulasi Sawit Mahasiswa Penerima Beasiswa BPDP SDM Sawit 2025 di Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru, Rabu (17/9/2025). (Foto: Dok. Prodi Agribisnis Unilak)
Pekanbaru, HAISAWIT – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Provinsi Riau berperan sebagai pemateri dalam acara Pembekalan Matrikulasi Sawit Mahasiswa Penerima Beasiswa BPDP SDM Sawit 2025 di Universitas Lancang Kuning (Unilak), Rabu (17/9/2025).
Acara ini terbagi dalam dua sesi, yaitu sesi pertama membahas aspek teknis perkebunan oleh Assoc. Prof. Dr. Mulono, sedangkan sesi kedua mengulas manajemen perkebunan bersama Sekretaris DPW APKASINDO Riau, Dr. (cn) Djono Albar Burhan.
Dikutip dari laman Prodi Agribisnis UNILAK, Jumat (19/9/2025), Indonesia memiliki luas perkebunan kelapa sawit sebesar 16,38 juta hektar. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan Malaysia dengan 5,67 juta hektar, serta Thailand dengan 810 ribu hektar.
Dalam presentasi yang disampaikan, APKASINDO Riau menjelaskan posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Kondisi tersebut menempatkan sawit sebagai salah satu komoditas strategis yang mampu menopang ekonomi nasional.
Selain itu, data juga menunjukkan bahwa kelapa sawit berkontribusi sekitar 3,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sektor ini turut memberikan sumber penghidupan bagi 2,6 juta petani kecil, 4,2 juta pekerja langsung, serta 12 juta pekerja tidak langsung.
Pada kesempatan yang sama, dipaparkan pula tantangan yang dihadapi industri sawit, salah satunya adalah maraknya informasi bohong yang merugikan citra sawit di tingkat global. Kondisi tersebut dianggap perlu diantisipasi melalui partisipasi generasi muda.
Generasi Y dan Z disebut memiliki peran penting karena lebih akrab dengan teknologi digital. Dengan kapasitas tersebut, mereka berpotensi menjadi penggerak kampanye positif yang menyebarkan informasi berbasis data dan fakta mengenai sawit.
Pemanfaatan media sosial dan platform digital diyakini dapat menjadi sarana efektif untuk menyalurkan informasi akurat. Cara ini dianggap mampu melawan arus informasi yang keliru mengenai praktik perkebunan dan industri sawit.
Partisipasi generasi muda juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia. Pada tahap ini, dukungan mereka sangat penting dalam memperkuat pemahaman publik mengenai peran sawit bagi ekonomi dan ketahanan pangan.
Melalui pembekalan di Unilak tersebut, APKASINDO Riau menekankan pentingnya kontribusi mahasiswa penerima beasiswa sawit dalam mengedepankan narasi positif. Peran ini diharapkan dapat memperkuat posisi sawit Indonesia di kancah global pada masa mendatang.***