
Badan Karantina Indonesia (Barantin) menggelar Talkshow Karantina Day 2025 bertema “Dari Karantina untuk Sawit Berkelanjutan: Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi Indonesia” di IPB International Convention Center, Bogor, Kamis (24/10/2025). (Foto: Barantin)
Bogor, HAISAWIT – Badan Karantina Indonesia (Barantin) memastikan setiap proses introduksi genetik kelapa sawit dilakukan secara aman, produktif, dan berkelanjutan. Pengawasan ketat ini menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan hayati sekaligus meningkatkan daya saing industri sawit nasional.
Langkah tersebut ditegaskan dalam kegiatan Talkshow Karantina Day 2025 yang mengangkat tema “Dari Karantina untuk Sawit Berkelanjutan: Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi Indonesia”, di IPB International Convention Center, Bogor, Kamis (24/10/2025).
Kepala Barantin, Sahat M. Panggabean, menjelaskan bahwa peran karantina tidak hanya sebatas perlindungan hayati, tetapi juga mencakup aspek produktivitas sektor perkebunan strategis seperti kelapa sawit.
“Karantina tidak hanya bertugas melindungi sumber daya hayati dari ancaman hama dan penyakit, tetapi juga memastikan bahwa proses introduksi dan lalu lintas material genetik serta komoditas strategis seperti kelapa sawit berjalan aman, produktif, dan berkelanjutan,” ujar Sahat, dikutip dari laman Barantin, Senin (27/10/2025).
Ia menambahkan, kebijakan karantina yang adaptif dan berbasis riset menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem pertanian dan perkebunan berdaya saing tinggi. Barantin berupaya memperkuat sinergi riset dan regulasi untuk menjamin keamanan hayati nasional.
Dalam forum tersebut, kolaborasi antara Barantin dan PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) menjadi salah satu agenda utama. Kemitraan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas pengawasan terhadap sumber daya genetik sawit dan mempercepat penerapan inovasi di bidang perkarantinaan.
Perwakilan PT RPN, Edy Suproanto, menyampaikan bahwa kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam membangun industri sawit yang tangguh melalui pendekatan ilmiah dan kebijakan yang terintegrasi.
“Kemitraan riset dan kebijakan merupakan kunci dalam memastikan keberlanjutan industri sawit Indonesia. Kolaborasi dengan Barantin ini menjadi langkah strategis untuk menjamin keamanan hayati sekaligus meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor perkebunan,” ungkap Edy.
Selain Barantin dan PT RPN, kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, serta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Para peserta membahas strategi menuju sistem produksi sawit yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Sahat menilai, penguatan regulasi dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menjamin keamanan hayati sekaligus menjaga efisiensi industri sawit nasional. Sistem karantina modern diperlukan untuk memastikan setiap tahap produksi dan distribusi sawit berjalan sesuai standar keamanan biologis.
“Karantina Indonesia akan terus memperkuat diri sebagai lembaga yang adaptif, modern, dan kolaboratif — siap menjaga keamanan hayati sekaligus mendorong produktivitas dan daya saing komoditas strategis nasional,” ujar Sahat.
Barantin mendorong penguatan monitoring pasca-introduksi sumber daya genetik sawit agar proses pengembangan tetap sejalan dengan prinsip keamanan ekosistem. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga biosekuriti nasional dan mendukung keberlanjutan industri sawit Indonesia.***