Kemenkeu Soroti Hilirisasi Sawit di Kaltim Masih Timpang, Produksi CPO Melimpah tapi Pabrik Pengolahan Minim

Kementerian Keuangan mencatat struktur industri sawit di Kalimantan Timur masih timpang. Dari 99 pabrik kelapa sawit yang memproduksi CPO dan PKO, hanya terdapat 4 pabrik kilang pemurnian dan fraksinasi serta 2 pabrik pengolahan lanjut. Kondisi ini membuat sebagian besar bahan baku tetap keluar daerah.

BERITA

Arsad Ddin

25 September 2025
Bagikan :


Samarinda, HAISAWIT – Kementerian Keuangan mencatat hilirisasi sawit di Kalimantan Timur masih belum seimbang dengan produksi yang melimpah. Dari 99 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan CPO dan PKO, hanya sebagian kecil berlanjut ke tahap pengolahan hilir.

Kondisi ini membuat sebagian besar produksi CPO dan PKO dari Kalimantan Timur harus dikirim keluar daerah. Akibatnya, potensi nilai tambah di sektor hilir belum termanfaatkan secara optimal di wilayah tersebut.

Dikutip dari DJPb Kementerian Keuangan RI, Kamis (25/9/2025), terdapat 99 Pabrik Kelapa Sawit di Kalimantan Timur. Namun, hanya ada 4 pabrik kilang pemurnian dan fraksinasi serta 2 pabrik pengolahan lanjut. Produktivitas sawit sempat mencapai puncaknya pada 2022, lalu menurun.

Seiring dengan itu, data menunjukkan luas lahan kelapa sawit di Kalimantan Timur meningkat dari 2020 hingga 2024. Namun, penambahan lahan tersebut tidak langsung meningkatkan hasil panen karena faktor cuaca, umur tanaman, dan teknik budidaya lebih berpengaruh.

Sebagian besar bahan baku primer sawit dari Kalimantan Timur masih berakhir sebagai pasokan ke luar daerah. Hal ini memperlihatkan bahwa kapasitas hilirisasi belum berjalan seiring dengan produksi CPO dan PKO yang dihasilkan.

Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur pada triwulan II 2025 tercatat 4,69 persen secara tahunan. Dari sisi kontribusi, daerah ini menyumbang 46,58 persen perekonomian Pulau Kalimantan. Angka tersebut menunjukkan peran strategis Kaltim di kawasan.

Pada Juli 2025, neraca perdagangan Kalimantan Timur mencatat surplus sebesar USD1.328,67 juta. Nilai ekspor mencapai USD1.702,60 juta dengan dominasi sektor pertambangan, sementara impor tercatat USD373,93 juta.

Tiongkok menjadi negara tujuan ekspor utama dengan nilai USD497,67 juta atau 30,68 persen. India berada di posisi kedua, disusul Filipina sebagai mitra dagang penting komoditas dari daerah ini.

Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga akhir Agustus 2025 mencapai Rp14,57 triliun. Pada saat yang sama, belanja negara tercatat Rp37,09 triliun atau 56,65 persen dari pagu tahunan sebesar Rp65,49 triliun.

Dari sisi penerimaan perpajakan, Kalimantan Timur mengumpulkan Rp12,54 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari Rp10,60 triliun Pajak Dalam Negeri dan Rp1,94 triliun Pajak Perdagangan Internasional, yang meningkat berkat bea keluar ekspor CPO.***

Bagikan :

Artikel Lainnya