Pemutaran Film Dokumenter: “Palm Oil in the Land of Orangutans”

Isu kelapa sawit dan lingkungan hidup sudah lama menjadi perhatian baik di tingkat nasional maupun internasional. Di satu sisi, industri kelapa sawit merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, berkontribusi signifikan terhadap devisa negara, penyerapan tenaga kerja, dan pembangunan daerah.

BERITA

Sahnia Mellynia

17 Oktober 2025
Bagikan :

Film Palm Oil in the Land of Orangutans adalah sebuah film dokumenter yang sempat menyentak banyak pihak. Selain mengangkat tema keberlanjutan dalam perkebunan sawit, karya sineas Denmark ini seolah memutar balikkan kepercayaan sebagian warga benua biru bahwa sawit itu tidak ramah terhadap lingkungan.

Jakarta, HAISAWIT - Isu kelapa sawit dan lingkungan hidup sudah lama menjadi perhatian baik di tingkat nasional maupun internasional. Di satu sisi, industri kelapa sawit merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, berkontribusi signifikan terhadap devisa negara, penyerapan tenaga kerja, dan pembangunan daerah. Namun, di sisi lain, masih ada saja persepsi negatif di sebagian masyarakat internasional terkait dampak sawit terhadap deforestasi, emisi gas rumah kaca, dan keberlangsungan satwa liar, khususnya orangutan.

Film dokumenter “Palm Oil in the Land of Orangutans” yang diproduksi oleh Copenhagen Film Company, Denmark, hadir di tengah perdebatan ini. Film tersebut menggambarkan secara visual realitas di lapangan, memperlihatkan bagaimana sawit berinteraksi dengan lingkungan, khususnya habitat orangutan. Pemutaran film ini penting sebagai media edukasi publik yang objektif, sekaligus sebagai pintu masuk untuk diskusi kritis yang konstruktif yang disponsori oleh KBRI Kopenhagen, Copenhagen Zoo dan Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS).

Film hasil kerja sama antara Kebun Binatang Kopenhagen (Copenhagen Zoo) dengan United Plantation (UP) ini awalnya dimaksudkan untuk promosi sawit yang berkelanjutan. Selama 8 tahun (2015-2023), mereka melakukan rehabilitasi hutan sambil melakukan pengamatan secara empiris atas biodiversitas yang menyeruak dalam “hutan koridor” seluas 318 ha yang menghubungkan area perkebunan sawit dan hutan lindung di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Dalam film ini terlihat misalnya, beberapa ekor orangutan yang baru melahirkan dan mereka hidup secara baik di perkebunan kelapa sawit. Selain itu, berbagai binatang seperti serangga, ular dan berbagai burung juga berkembang biak secara normal. Hal ini menunjukkan bahwa produksi minyak kelapa bisa sawit dilakukan tanpa mempengaruhi ekosistem flora dan fauna. Temuan diatas tentu telah memantik banyak diskusi baik di Eropa maupun berbagai wilayah lain.

Ada yang menerima dengan baik dan tetap saja ada yang kontra. Maklumlah, film tersebut seolah menggarisbawahi potensi produksi sawit yang bisa hidup berdampingan dengan konservasi lingkungan dan wildlife. Kenyataan di lapangan tersebut juga menggambarkan keberhasilan forest corridor project yang mampu meningkatkan jumlah dan populasi aneka spesies.

Secara umum, film karya warga Eropa ini menawarkan sebuah perspektif yang tidak biasa terhadap industri kelapa sawit, utamanya menekankan pentingnya keberlanjutan dan konservasi lingkungan hidup. Bagi Indonesia, kegiatan ini memiliki makna strategis. Pertama, untuk menunjukkan keterbukaan dalam membicarakan isu sawit secara ilmiah dan berimbang.

Kedua, untuk mengedukasi publik—terutama generasi muda dan kalangan akademisi—agar memahami kompleksitas hubungan antara ekonomi, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Ketiga, kegiatan ini memperkuat kerja sama diplomasi hijau antara Indonesia dan komunitas internasional, khususnya dengan Denmark melalui dukungan KBRI Kopenhagen dan Copenhagen Zoo.

Dengan demikian, pemutaran film ini bukan sekadar acara hiburan, tetapi sebuah forum dialog yang membuka wawasan, menghubungkan perspektif, dan mendorong lahirnya solusi bersama untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Bagikan :

Artikel Lainnya