
Seorang pekerja perkebunan kelapa sawit sedang memanen Tandan Buah Segar (TBS) di lahan perkebunan. (Foto: Bpdp)
Jakarta, HAI SAWIT – Minyak sawit memiliki efisiensi penggunaan lahan tinggi dibandingkan minyak nabati lain. Produktivitas per hektare sawit jauh lebih besar, sehingga meminimalkan kebutuhan area untuk produksi global.
Permintaan minyak nabati meningkat di seluruh dunia. Sawit menawarkan produksi yang optimal per luas lahan, berbeda dengan minyak kedelai, rapeseed, dan biji bunga matahari yang membutuhkan lahan lebih luas.
Dilansir laman BPDP, Kamis (13/11/2025), indeks deforestasi minyak sawit tercatat 150 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibanding minyak kedelai 956 persen, rapeseed 614 persen, dan bunga matahari 827 persen.
Selain efisiensi lahan, emisi karbon sawit termasuk rendah. Setiap liter minyak sawit menghasilkan emisi jauh lebih sedikit dibandingkan minyak kedelai, rapeseed, dan biji bunga matahari.
Minyak kedelai memiliki emisi 425 persen lebih tinggi, rapeseed 242 persen lebih tinggi, dan bunga mata matahari 225 persen lebih tinggi. Tingkat emisi ini menunjukkan keunggulan sawit di sektor lingkungan.
Keanekaragaman hayati menjadi indikator penting lain. Sawit memiliki Species Richness Loss (SRL) paling rendah, menandakan dampak kehilangan biodiversitas yang minimal dibandingkan minyak nabati lain.
Indeks SRL minyak kedelai 184 persen lebih tinggi, rapeseed 179 persen lebih tinggi, dan bunga matahari 144 persen lebih tinggi dibanding sawit. Data ini menempatkan sawit sebagai minyak nabati dengan footprint lebih kecil.
Kebutuhan air untuk produksi bioenergi dari sawit juga efisien. Setiap satu giga joule energi bioenergi dari sawit memerlukan sekitar 75 meter kubik air, lebih rendah dibandingkan kedelai, rapeseed, dan kelapa.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa sawit unggul dalam tiga aspek utama: efisiensi lahan, emisi karbon, dan dampak terhadap keanekaragaman hayati, dibanding minyak nabati lain yang digunakan secara global.
Produksi minyak nabati dari sawit memungkinkan penghematan lahan dan sumber daya secara signifikan, sekaligus menekan tingkat emisi dibandingkan minyak nabati lain yang memiliki footprint lebih besar.
Minyak sawit tetap menjadi salah satu minyak nabati paling efisien dalam penggunaan lahan, rendah emisi, dan hemat air. Data ini relevan bagi industri global yang menilai keberlanjutan produksi minyak nabati.***