
Jakarta, HAISAWIT – PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) mencatat peningkatan produksi tandan buah segar (TBS) sepanjang Januari hingga September 2025. Volume produksi tercatat hampir menyentuh angka satu juta ton.
Pertumbuhan produksi tersebut menjadi sinyal positif bagi kinerja perusahaan di sektor perkebunan sawit. Peningkatan ini terjadi baik di kebun inti maupun kebun plasma yang dikelola perusahaan.
Dikutip dari laman TLDN, Senin (3/11/2025), total produksi TBS mencapai 929.964 ton atau naik 5,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 878.296 ton. Produksi kebun inti tumbuh 5,3 persen, sedangkan plasma meningkat 10,3 persen.
Kenaikan volume TBS ini juga berdampak pada peningkatan produksi minyak sawit mentah (CPO) yang dihasilkan. Hingga akhir September 2025, produksi CPO mencapai 240.282 ton atau tumbuh 2,2 persen secara tahunan.
Selain CPO, produksi palm kernel (PK) dan crude palm kernel oil (CPKO) turut mengalami peningkatan. Masing-masing tercatat naik 2,9 persen dan 265,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan produksi tersebut diikuti oleh kinerja penjualan yang kuat. Volume penjualan CPO mencapai 238.013 ton dengan rata-rata harga jual meningkat 18,6 persen menjadi Rp13.945 per kilogram.
Untuk produk CPKO, volume penjualan tumbuh 312,8 persen menjadi 8.753 ton dengan harga rata-rata Rp24.080 per kilogram. Sementara itu, rata-rata harga jual PK juga naik 82,3 persen menjadi Rp11.024 per kilogram.
Kombinasi peningkatan volume dan harga jual tersebut mendorong pendapatan perusahaan dari tiga produk utama mencapai lebih dari Rp3,8 triliun. Pendapatan dari CPO mencapai Rp3,32 triliun, CPKO sebesar Rp210,78 miliar, dan PK sebesar Rp274,37 miliar.
Kinerja positif tersebut menjadi cerminan keberhasilan perusahaan menjaga stabilitas operasional di tengah dinamika industri sawit global. Penguatan efisiensi di tingkat kebun dan pabrik menjadi salah satu faktor pendukung pencapaian ini.
Perusahaan juga melaporkan penerapan teknologi berbasis data dalam pemantauan produktivitas tanaman sawit. Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan efektivitas manajemen produksi sepanjang 2025.***