PalmCo Kembangkan Gas Biometan Sawit, Pabrik Baru Siap Beroperasi 2026

PT Perkebunan Nusantara IV (PalmCo) mengembangkan pengolahan limbah cair sawit menjadi gas biometan. Proyek energi terbarukan ini menargetkan pengoperasian pabrik baru pada 2026 guna menghasilkan sumber energi bersih bagi kebutuhan industri.

BERITA HAI INOVASI SAWIT

Arsad Ddin

2 Januari 2026
Bagikan :

Gambar Ilustrasi Gas Biometan Sawit

Jakarta, HAI SAWIT – PT Perkebunan Nusantara IV (PalmCo), subholding sawit milik negara, menghadirkan energi bersih dari limbah cair sawit, memanfaatkan gas metana yang selama ini belum dimanfaatkan untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

Limbah cair sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) kini menjadi bahan baku utama produksi Compressed Biomethane Gas (CBG). Inovasi tersebut bertujuan menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan.

Dilansir dari PTPN IV, Jumat (02/01/2026), pembangunan pabrik biometana pertama berlokasi di Unit Tinjowan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Fasilitas pengolahan limbah ini dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada tahun ini.

Proyek strategis tersebut merupakan hasil kolaborasi antara PalmCo, PTPN III (Persero), dan reNIKOLA Primer Energi asal Malaysia. Sinergi ini menggabungkan keahlian teknologi pengolahan limbah dengan pengelolaan perkebunan skala luas.

Pabrik di Tinjowan memiliki target kapasitas produksi yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan industri. Beberapa poin penting terkait operasional fasilitas energi terbarukan ini antara lain:

  • Target produksi mencapai 162.000 MMBTU per tahun.
  • Potensi pengurangan emisi setara 30.000 ton CO2 ekuivalen per tahun.
  • Memurnikan gas metana hasil penguraian limbah cair organik secara anaerob.

Secara teknis, setiap ton POME mampu menghasilkan sekitar 30 hingga 40 Nm3 biogas. Melalui proses pemurnian, gas tersebut berubah menjadi biometana yang memiliki karakteristik serupa dengan gas alam konvensional.

Ekspansi Skala Nasional

PalmCo memiliki rencana besar untuk menduplikasi model pabrik biometana Tinjowan ke lokasi lain. Targetnya, terdapat 20 pabrik sawit di bawah naungan perusahaan yang akan memiliki fasilitas serupa.

Langkah ekspansi tersebut bertujuan mempercepat pencapaian target dekarbonisasi di lingkungan perkebunan negara. Jika seluruh pabrik beroperasi, volume pengurangan emisi karbon akan meningkat hingga ratusan ribu ton setiap tahunnya.

Pemanfaatan POME menjadi biometana memberikan solusi ganda bagi industri sawit. Selain menghasilkan energi bersih siap pakai, teknologi ini mencegah pelepasan gas metana berbahaya ke atmosfer secara bebas.

Perusahaan menetapkan target penurunan emisi yang cukup ambisius hingga akhir dekade ini. PalmCo memproyeksikan pengurangan emisi hingga 54,46 persen pada 2030 mendatang dibandingkan dengan skenario operasional bisnis biasa.

Pembangunan infrastruktur biometana di dalam negeri juga meminimalisir ketergantungan pada pasar luar negeri. Sebelumnya, potensi energi hijau dari limbah sawit Indonesia lebih banyak dikaji untuk memenuhi kebutuhan pasar negara tetangga.***

Bagikan :

Artikel Lainnya