Apa Rahasia Menjaga Keberlanjutan Kebun di Era Digital? Temukan Jawabannya di HASI 2026

Simposium di Jakarta menghadirkan diskusi mengenai efisiensi sumber daya melalui penerapan teknologi digital di area perkebunan. Kegiatan memberikan panduan teknis bagi manajemen dalam menjaga produktivitas sekaligus memenuhi kepatuhan terhadap prinsip konservasi ekosistem.

BERITA

Arsad Ddin

15 Januari 2026
Bagikan :


Jakarta, HaiSawit – Hai Sawit Simposium (HASI) 2026 akan membedah integrasi teknologi digital dalam mendukung keberlanjutan perkebunan pada 22–23 April 2026 di Jakarta. Forum ini mempertemukan pimpinan perusahaan agribisnis dan pakar teknologi global.

Simposium memfokuskan pembahasan pada penggunaan data akurat untuk memenuhi standar sertifikasi internasional yang makin ketat. Para ahli akan memaparkan bagaimana digitalisasi membantu pemantauan jejak karbon serta ketertelusuran rantai pasok minyak sawit secara transparan.

Penerapan sistem monitoring berbasis satelit dan sensor lapangan memungkinkan perusahaan mendeteksi dini perubahan kondisi lingkungan di sekitar area konsesi. Teknologi ini menjadi kunci dalam membuktikan kepatuhan terhadap prinsip non-deforestasi dan perlindungan keanekaragaman hayati.

Peserta akan mendalami metode sinkronisasi data operasional harian dengan platform audit keberlanjutan untuk mempercepat proses sertifikasi. Efisiensi ini membantu manajemen mengurangi beban administrasi manual yang sering kali menghambat laporan kepatuhan lingkungan tahunan.

Fakta teknis yang menjadi poin pembahasan utama meliputi:

  • Penggunaan citra satelit resolusi tinggi untuk pemantauan tutupan lahan secara berkala.
  • Implementasi sistem pelacakan digital dari kebun hingga pabrik pengolahan kelapa sawit.
  • Pemanfaatan sensor pintar untuk mengoptimalkan penggunaan air dan meminimalkan limbah kimia.
  • Digitalisasi dokumen legalitas lahan guna mempermudah verifikasi kepemilikan aset yang sah.

Integrasi sistem informasi geografis atau Geographic Information System (GIS) memberikan visualisasi data yang presisi bagi tim lapangan. Kemampuan ini memudahkan pimpinan unit dalam mengambil keputusan strategis yang selaras dengan kebijakan perlindungan ekosistem sekitar.

HASI 2026 menyajikan riset mengenai penghematan input pertanian melalui penerapan pertanian presisi berbasis data cuaca. Praktisi akan mempelajari cara mempertahankan produktivitas tanaman tanpa merusak kualitas tanah melalui pemantauan kesehatan vegetasi secara digital.

Himpunan Praktisi Kelapa Sawit Indonesia (HIPKASI) menyiapkan sesi khusus mengenai manajemen data besar atau big data untuk prediksi panen. Akurasi data membantu perusahaan mengelola logistik pengangkutan buah dengan lebih efisien dan ramah lingkungan.

Panitia menyediakan akses pendaftaran bagi praktisi perkebunan melalui situs resmi Hai Sawit Indonesia (HSI) dengan rincian biaya:

  • Early Bird: Rp 1.850.000 (Hingga 31 Desember 2025).
  • Regular: Rp 2.750.000 (1 Januari – 28 Februari 2026).
  • Late: Rp 3.500.000 (1 Maret – 20 April 2026).

Kegiatan ini memfasilitasi dialog antara pelaku usaha dengan lembaga sertifikasi internasional mengenai tantangan kepatuhan di masa depan. HASI 2026 memberikan panduan praktis bagi perusahaan untuk membangun sistem manajemen yang akuntabel dan berdaya saing.

Strategi jangka panjang dalam simposium ini menyasar pada peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam mengoperasikan perangkat digital. Penguasaan teknologi menjadi syarat mutlak bagi keberlangsungan industri sawit nasional di tengah tuntutan pasar global.

Simposium berakhir dengan pemaparan dokumentasi teknis mengenai standar prosedur operasional perkebunan berkelanjutan berbasis digital. Materi tersebut akan menjadi rujukan bagi peserta dalam mengimplementasikan transformasi teknologi di unit kerja masing-masing.***


Bagikan :

Artikel Lainnya