
Dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, IPB University, Prof. Hariyadi. (Foto: Dok. HaiSawit)
Jakarta, HAISAWIT – Industri kelapa sawit nasional menghadapi tantangan serius terkait rendahnya produktivitas pada level perkebunan rakyat akibat penggunaan benih tidak bersertifikat atau benih palsu yang masih marak ditemukan di berbagai sentra perkebunan Indonesia.
Pakar Agronomi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Hariyadi, M.S., mengungkapkan bahwa kesalahan fatal dalam pemilihan bahan tanam ini berdampak buruk terhadap hasil panen jangka panjang serta merugikan nilai ekonomi yang seharusnya diterima oleh para pekebun.
Berdasarkan hasil analisis lapangan, penggunaan bibit tanpa dokumen resmi ini mengakibatkan tanaman tidak mampu memberikan hasil maksimal meskipun diberikan pemeliharaan yang sama dengan bibit unggul, sehingga biaya operasional menjadi terbuang sia-sia tanpa hasil sepadan.
Prof. Hariyadi menjelaskan bahwa perbedaan produktivitas antara benih berkualitas dengan benih abal-abal sangat signifikan, di mana tanaman dari benih palsu hanya mampu memproduksi buah dalam jumlah terbatas dengan rendemen minyak yang jauh di bawah standar industri.
Dalam diskusi bersama Direktur Hai Sawit, M. Danang MRQ, Prof. Hariyadimenyampaikan secara lugas mengenai besaran kerugian yang dialami petani akibat ketidaktahuan atau keinginan untuk menghemat biaya pembelian bibit di awal masa tanam tanpa memikirkan konsekuensi produktivitas selama puluhan tahun.
"Jadi kalau menggunakan bibit yang tidak bersertifikat itu potensi produksinya hanya 40% sebenarnya dari yang harus kalau dia menggunakan bibit yang asli yang unggul dengan perlaku yang sama perlakuan yang seku standar seperti itu," ujar Prof. Hariyadi, dalam acara Podcast HaiSawitTV.
Investasi pada benih unggul merupakan langkah krusial bagi keberlanjutan ekonomi pekebun karena tanaman kelapa sawit memiliki siklus hidup yang sangat panjang, sehingga kesalahan pada fase awal akan menjadi beban kerugian yang bersifat permanen.
Penggunaan benih berkualitas juga merupakan salah satu pilar utama dalam implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) guna memastikan bahwa setiap lahan perkebunan dikelola secara profesional untuk mencapai target produksi nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Melalui standarisasi yang ketat dalam sertifikasi ISPO, setiap unit usaha perkebunan maupun koperasi petani didorong untuk mematuhi kaidah praktik pertanian yang baik demi menjamin kualitas buah serta kontinuitas pasokan minyak sawit mentah yang berkualitas tinggi.
Prof. Hariyadi menambahkan bahwa pemulihan produktivitas melalui program peremajaan sawit rakyat menjadi momentum penting bagi petani untuk mengganti tanaman lama yang tidak produktif dengan benih unggul hasil riset lembaga pemuliaan tanaman yang terakreditasi resmi.
"Satu bibit harganya sekitar siap tanam itu sekitar 60-an ribu sekarang satu bibit hanya kalau dia produknya tinggi kan produksinya lebih tinggi itu satu tandan aja harganya berapa sudah 60.000 sekarang kan gitu kan kalau bobotnya misalnya sudah 15 kilo gitu kan," katanya.
Ketaatan terhadap aspek legalitas benih merupakan fondasi dasar agar petani bisa bersaing di pasar global, mengingat pembeli internasional kini semakin selektif dalam memilih produk minyak sawit yang berasal dari sistem budidaya yang jelas dan terdokumentasi.
Upaya penyadaran terhadap pentingnya pemilihan bahan tanam berkualitas merupakan kerja besar yang memerlukan keterlibatan aktif dari lembaga pelatihan, penyuluh lapangan, serta penguatan kelembagaan koperasi agar petani memiliki akses terhadap bibit unggul dengan harga terjangkau.
Keberlanjutan industri kelapa sawit nasional sangat bergantung pada konsistensi semua pihak dalam menjaga standar kualitas dari sektor hulu hingga hilir demi melindungi reputasi komoditas Indonesia di pasar internasional.
"Mari kita kawal ini kebun sawit ini yang sesuai betul-betul bisa ramah lingkungan menyejahterakan masyarakat dan juga kita jaga bumi ini ya sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak sebenarnya terjadi, lanjutnya.
Penerapan prinsip berkelanjutan melalui sertifikasi ISPO menjadi instrumen penting dalam memitigasi berbagai risiko kerusakan lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani pada lahan perkebunan kelapa sawit rakyat di seluruh wilayah Indonesia.
Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri sangat dibutuhkan guna memastikan tata kelola perkebunan berjalan sesuai regulasi demi menjamin ketersediaan pasokan minyak sawit yang memenuhi standar kualitas pasar global.***