
Hai Sawit Simposium (HASI) 2025. (Foto: Dok. HaiSawit)
Jakarta, HaiSawit – Pemanfaatan pesawat tanpa awak atau drone untuk sistem pemupukan presisi menjadi topik utama dalam Hai Sawit Simposium (HASI) 2026 pada 22–23 April mendatang di Jakarta. Forum ini mempertemukan pimpinan perusahaan agribisnis dan pakar teknologi guna membedah peningkatan efisiensi kebun.
Penerapan teknologi drone bertujuan meminimalkan pemborosan material pupuk serta mengatasi keterbatasan tenaga kerja di lapangan. Data riset menunjukkan bahwa mekanisasi udara mampu menjangkau area sulit sekaligus memastikan sebaran nutrisi tanaman lebih merata dan akurat.
Metode pemupukan konvensional sering menghadapi kendala akurasi dosis dan kecepatan pengerjaan pada topografi lahan yang ekstrem. Simposium ini akan memaparkan perbandingan data operasional antara penggunaan tenaga manual dengan sistem otomasi udara berbasis koordinat satelit.
Inovasi Penyemprotan dan Pemetaan
Teknologi yang dibahas mencakup integrasi sensor multispektral untuk mendeteksi kebutuhan hara tanaman secara spesifik. Melalui pemetaan digital, drone hanya akan melepaskan pupuk pada titik-titik yang membutuhkan sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Keunggulan teknis drone dalam operasional perkebunan meliputi:
- Kemampuan membawa muatan cair hingga 50 liter dengan sistem nosel anti-sumbat.
- Akurasi penyemprotan mencapai sentimeter berkat integrasi sistem Real-Time Kinematic (RTK).
- Kapasitas kerja hingga 10–15 hektare per jam dibandingkan metode manual yang jauh lebih lambat.
- Pengurangan risiko kecelakaan kerja bagi buruh pemupuk di area lahan berbukit.
Implementasi sistem ini membantu manajemen dalam melakukan penghematan biaya pembelian pupuk hingga 20 persen melalui eliminasi dosis berlebih. Kecepatan waktu pengerjaan juga menjamin siklus pemupukan tetap sesuai dengan jadwal agronomi yang ketat.
Integrasi Data dan Perencanaan Digital
HASI 2026 menyajikan sesi simulasi pengolahan data hasil terbang drone menjadi peta rekomendasi pemupukan. Platform digital ini memungkinkan asisten kebun memantau kemajuan pekerjaan melalui dasbor pusat tanpa harus berada di lokasi sepanjang hari.
Himpunan Praktisi Kelapa Sawit Indonesia (HIPKASI) juga membedah aspek perawatan baterai serta manajemen stasiun pengisian daya di tengah perkebunan. Kesiapan infrastruktur pendukung menjadi kunci keberhasilan transformasi teknologi dari cara tradisional menuju sistem mekanisasi udara.
Panitia menyediakan akses bagi praktisi untuk berkonsultasi langsung mengenai spesifikasi armada drone melalui pendaftaran resmi dengan rincian biaya:
- Early Bird: Rp 1.850.000 (Hingga 31 Desember 2025).
- Regular: Rp 2.750.000 (1 Januari – 28 Februari 2026).
- Late: Rp 3.500.000 (1 Maret – 20 April 2026).
Registrasi dapat diakses melalui situs resmi Hai Sawit Indonesia (HSI) guna mendapatkan materi teknis lengkap serta demonstrasi unit. Forum ini menjadi referensi bagi perusahaan dalam menyusun anggaran belanja modal untuk pembaruan teknologi tahun depan.
Penerapan teknologi presisi ini juga selaras dengan tuntutan pasar global mengenai praktik perkebunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan meminimalkan limpasan pupuk ke badan air, perusahaan sekaligus menjalankan prinsip konservasi lingkungan yang lebih baik.
HASI 2026 diakhiri dengan pemaparan strategi jangka panjang mengenai pelatihan sumber daya manusia untuk mengoperasikan armada drone secara profesional. Dokumentasi teknis mengenai standar prosedur operasional pemupukan udara akan dibagikan kepada seluruh peserta sebagai rujukan lapangan.***
