
Prof. Agustin Krisna Wardani, STP., M.Si., Ph.D. (Foto: Prasetya Online UB)
Malang, HAISAWIT – Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Prof. Agustin Krisna Wardani, berhasil mengamankan pendanaan riset internasional dari Jepang melalui skema Research and Development Program for Promoting Innovative Energy and Environmental Technologies Through International Collaboration (RDIC).
Hibah riset ini diberikan oleh New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO). Kerjasama lintas negara tersebut membuktikan bahwa residu industri kelapa sawit nasional memiliki daya tarik besar bagi pengembangan energi terbarukan dunia.
Ketua Pusat Inovasi Biosains Universitas Brawijaya (UB) ini menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah lignoselulosa sawit menjadi prioritas utama. Inovasi bioetanol generasi kedua ini menyasar pemanfaatan residu agroindustri yang selama ini belum tergarap optimal.
“Alasan utama saya menekuni riset bioetanol generasi kedua adalah ketersediaan biomassa yang melimpah, khususnya biomassa lignoselulosa dari limbah pertanian dan residu agroindustri yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal dan masih bernilai tambah rendah,” ujar Prof. Agustin, dikutip dari laman Prasetya UB, Jumat (09/01/2026).
Inovasi Berbasis Bioteknologi Modern
Riset ini menggandeng Tokushima University dan Setsuro Tech Inc. sebagai mitra strategis asal Jepang. Kolaborasi tersebut menerapkan teknologi rekayasa mikroorganisme berbasis CRISPR/Cas guna mengoptimalkan proses fermentasi biomassa menjadi bahan bakar nabati cair.
Prof. Agustin mengungkapkan bahwa pendekatan bioteknologi sirkular akan mengubah kedudukan limbah menjadi komoditas energi. Langkah ini juga diproyeksikan mampu membuka jalur hilirisasi industri baru yang menggunakan kekayaan hayati asli Indonesia sebagai bahan baku utama.
“Dengan mengubah biomassa bernilai rendah menjadi produk energi bernilai tinggi, riset ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan, tetapi juga membuka peluang hilirisasi bioteknologi yang aplikatif dan berdaya saing, sesuai dengan potensi sumber daya hayati Indonesia,” ujarnya.
Melalui integrasi proses biokonversi yang efisien, riset ini berupaya menjawab persoalan emisi karbon global. Bioetanol generasi kedua ini tidak bersaing dengan kebutuhan pangan karena menggunakan material non-konsumsi manusia dari sisa pengolahan sawit.
Proyek internasional ini juga bertujuan memperkuat posisi UB sebagai pusat unggulan riset bioteknologi dunia. Adapun target luaran dari riset berskala global ini meliputi:
- Publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi tinggi.
- Perolehan hak paten dan paten sederhana bagi inovasi teknologi.
- Pengembangan prototipe industri yang siap masuk ke pasar energi.
Mengenai dampak keilmuan, peneliti senior ini menekankan bahwa riset tersebut memberikan kontribusi besar bagi bioteknologi industri. Terutama pada penemuan inovasi mikroba dan enzim yang mampu mengonversi gula kompleks hasil pengolahan limbah secara maksimal.
“Secara lebih luas, riset ini berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan di bidang bioteknologi industri, khususnya inovasi mikroba, enzim, dan proses biokonversi lignoselulosa, serta menjadi model riset bioekonomi sirkular yang relevan,” kata Prof. Agustin.
Prestasi ini didukung penuh oleh infrastruktur internal kampus seperti Laboratorium Riset Terpadu (LRT) dan Laboratorium Bioteknologi. Fasilitas tersebut berperan penting dalam memenangkan kompetisi pendanaan internasional yang sangat kompetitif dari lembaga resmi pemerintah Jepang.
Keberhasilan perolehan grant NEDO ini menjadi model bagi pengembangan riset berbasis sumber daya hayati tropis di Indonesia. Fokus pada keberlanjutan lingkungan dan transisi energi berkelanjutan menjadi nilai tawar utama riset ini bagi dunia internasional.***