
(Foto: BAPPENAS)
Jakarta, HAISAWIT – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) resmi menggandeng Chinese Society of Environmental Sciences (CSES) guna mentransformasi industri kelapa sawit melalui inovasi teknologi ramah lingkungan yang sangat signifikan.
Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman terkait pengembangan industri sawit rendah emisi yang mencakup penerapan teknologi canggih, penyusunan metodologi karbon, hingga penguatan kapasitas kelembagaan bagi para petani swadaya nasional.
Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas, Teni Widuriyanti, menjelaskan bahwa kemitraan strategis ini berfokus pada penguatan hilirisasi industri kelapa sawit melalui pemanfaatan mekanisme pembiayaan pembangunan inovatif serta penerapan teknologi pengolahan terbaru.
“Salah satu aspek utama dari kemitraan ini adalah pengembangan dan penerapan teknologi inovatif rendah emisi, atau yang kami sebut sebagai PaMER (Pabrik Minyak Sawit Emisi Rendah). Teknologi ini tidak hanya menghasilkan minyak pangan bernutrisi tinggi dan produk lain yang ramah lingkungan, tetapi juga memiliki potensi untuk menurunkan emisi karbon sebesar 79,19 persen dibandingkan dengan teknologi konvensional,” ujar Teni, dikutip dari laman BAPPENAS, Sabtu (31/01/2026).
Wakil Presiden sekaligus Sekretaris Jenderal CSES, Xia Zuyi, menyatakan bahwa kolaborasi internasional tersebut mempunyai nilai percontohan yang krusial bagi transisi hijau global, terutama dalam mengintegrasikan sektor industri dengan perlindungan lingkungan hidup.
“Kerja sama ini berfokus pada pengembangan industri kelapa sawit rendah emisi dan ramah lingkungan, serta mengeksplorasi integrasi mekanisme perdagangan karbon dengan pengembangan industri dan peningkatan kesejahteraan petani. Inisiatif ini memiliki nilai inovasi dan percontohan yang penting,” tutur Xia Zuyi saat memberikan keterangan resminya.
Implementasi Pabrik Minyak Sawit Emisi Rendah (PaMER) diproyeksikan mampu mendongkrak daya saing komoditas unggulan Indonesia di pasar internasional. Peningkatan ini didukung oleh kajian kerangka perdagangan karbon yang aplikatif bagi seluruh pelaku usaha.
Selain aspek teknologi, kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok tersebut memprioritaskan beberapa poin inti berikut ini:
- Pengembangan metodologi perhitungan emisi karbon yang akurat.
- Pembentukan koperasi petani untuk memperkuat posisi tawar.
- Penyelenggaraan pelatihan teknis dan pertukaran pengetahuan lingkungan.
Staf Ahli Menteri PPN Bidang Inovasi Pendanaan Pembangunan, Siliwanti, mengungkapkan bahwa sinergi ini menciptakan keseimbangan ideal antara pertumbuhan ekonomi nasional dengan perlindungan ekosistem demi mencapai target iklim global yang telah disepakati bersama.
“Kemitraan ini membentuk kerangka kerja sama yang komprehensif, yang merepresentasikan pertemuan antara kepentingan ekonomi dan lingkungan. Kerja sama ini memberikan arah yang jelas bagi kedua negara untuk mencapai target iklim secara saling menguntungkan,” ungkap Siliwanti saat menjelaskan rincian kesepakatan tersebut.
Skema pengembangan industri inklusif ini melibatkan petani sebagai aktor utama dalam rantai pasok hijau. Penguatan kapasitas melalui koperasi memungkinkan produsen skala kecil terlibat langsung dalam mekanisme perdagangan karbon yang memberikan keuntungan finansial berkelanjutan.
Bappenas dan CSES kini memulai fase awal identifikasi lokasi percontohan untuk penerapan teknologi PaMER tersebut. Upaya ini menjadi model transformasi industri sawit yang relevan secara global, berdaya saing tinggi, serta mendukung agenda pembangunan hijau nasional.***