Kelapa Sawit dan LULUCF, Strategi Efisiensi Lahan untuk Mitigasi Emisi Global

Sektor LULUCF berkontribusi sekitar 12% terhadap total emisi gas rumah kaca global. Pemanfaatan lahan terdegradasi untuk perkebunan kelapa sawit menunjukkan potensi sebagai carbon sink sekaligus efisiensi produksi minyak nabati.

ARTIKEL

Arsad Ddin

1 September 2025
Bagikan :

Ilutsrasi Perkebunan Kelapa Sawit (Foto: gapki.id)

Jakarta, HAISAWIT - Sektor LULUCF (Land Use, Land-Use Change and Forestry) berperan penting dalam peta emisi gas rumah kaca global. Pada 2019, kontribusi sektor ini mencapai sekitar 12% dari total emisi dunia, setara 7,1 Gt CO₂-eq.

Sektor LULUCF di Eropa menunjukkan tren positif sebagai penyerap karbon. Tahun 2023, sektor ini mampu menyerap 257 juta ton CO₂-eq, meningkat dari 236 juta ton CO₂-eq pada 2022, menurut laporan European Environment Agency.

Dikutip dari laman GAPKI, Senin (1/9/2025), produktivitas kelapa sawit jauh lebih tinggi dibanding kedelai, rapeseed, atau bunga matahari. Sawit menghasilkan 4–10 kali lebih banyak minyak per hektar, sehingga penggunaan lahan bisa lebih efisien.

Lahan dengan stok karbon rendah yang dikonversi menjadi perkebunan sawit bisa berfungsi sebagai carbon sink. Studi di Asia Tenggara menunjukkan biomassa dan tanah sawit mampu menyerap karbon dalam jumlah signifikan, mendukung strategi mitigasi emisi.

Selain efisiensi lahan, produk turunan sawit dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Pemanfaatan ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, salah satu sumber emisi GRK terbesar di dunia.

Kelapa sawit juga memberi dampak sosial-ekonomi yang nyata. Industri sawit membuka lapangan kerja di pedesaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, terutama ketika pengelolaan dilakukan sesuai standar keberlanjutan seperti ISPO dan RSPO.

Data global menunjukkan bahwa fenomena ekstrem, seperti kebakaran hutan pada 2024, sempat meningkatkan emisi dari sektor LULUCF hingga 4,2 miliar ton CO₂. Angka ini naik 13,5% dibanding tahun sebelumnya dan memengaruhi konsentrasi karbon atmosfer.

Pemantauan suhu global menunjukkan 2024 menjadi tahun terpanas sejak 1850, mendekati ambang pemanasan 1,5°C. Kondisi ini menegaskan kerentanan sektor LULUCF terhadap perubahan iklim ekstrem dan kebutuhan pengelolaan lahan yang cermat.

Dalam skala regional, pengelolaan lahan terdegradasi menjadi perkebunan sawit memberikan peluang mitigasi. Transformasi ini dapat meningkatkan stok karbon sekaligus menyediakan bahan baku minyak nabati berproduktivitas tinggi.

Laporan lembaga internasional menekankan pentingnya optimalisasi sektor LULUCF untuk mendukung target net-zero global. Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang diperhitungkan dalam strategi efisiensi penggunaan lahan dan pengurangan emisi GRK.***

Bagikan :

Artikel Lainnya