
Ilustrasi Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit. (Foto: BPDP)
Bandung, HAISAWIT - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi superkapasitor berbasis limbah sawit. Inovasi ini digadang dapat memperkuat transisi energi bersih nasional melalui pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit (TKKS).
Kepala Pusat Riset Elektronika BRIN, Prof. Yusuf Nur Wijayanto, menekankan bahwa riset superkapasitor sangat penting dalam mendukung agenda energi bersih. Menurutnya, pemanfaatan biomassa sawit dapat menjadi langkah strategis dalam menyediakan material karbon berkelanjutan.
“Potensi pemanfaatan limbah biomassa kelapa sawit sebagai material karbon ramah lingkungan serta strategi rekayasa mikrostruktur dalam peningkatan performa superkapasitor dikupas tuntas di sini,” ujar Prof. Yusuf, dikutip dari laman BRIN, Kamis (18/9/2025).
Kegiatan ini disampaikan pada webinar SISTEM #5 bertema Advances in Supercapacitor Devices: From Microstructure Engineering to Biomass-Derived Carbon Material, Selasa (26/8/2025). Acara tersebut menghadirkan pakar dari berbagai bidang yang membahas perkembangan mutakhir teknologi superkapasitor.
Dalam kesempatan itu, Profesor Riset BRIN, Rike Yudianti, memaparkan potensi tandan kosong sawit sebagai bahan baku material karbon ramah lingkungan. Seiring meningkatnya produksi minyak sawit, limbah TKKS disebut mampu menjadi sumber material bernilai tinggi.
Rike menjelaskan, TKKS dapat diolah menjadi tiga produk utama, yaitu porous carbon graphite, nanocellulose, dan nano-silica. Ketiga material ini dipandang sebagai kunci dalam pengembangan perangkat penyimpan energi masa depan.
“Target riset kami adalah menghasilkan perangkat superkapasitor dengan performa setara baterai, dengan material berbasis keluarga karbon yang lebih ramah lingkungan,” jelas Rike.
Superkapasitor berbasis TKKS telah diuji dan menunjukkan kinerja baik, bahkan mampu mempertahankan performa hingga ribuan siklus. Temuan ini membuka jalan bagi pemanfaatan limbah sawit sebagai solusi energi ramah lingkungan.
Sejalan dengan itu, Guru Besar Universitas Negeri Malang, Prof. Markus Diantoro, menuturkan bahwa modifikasi mikrostruktur menjadi langkah penting dalam meningkatkan kinerja perangkat penyimpan energi.
“Rekayasa ini membuka peluang besar untuk menghadirkan perangkat superkapasitor yang memiliki kapasitas lebih besar dan efisien, sehingga dapat memaksimalkan kapasitas penyimpanan energi terbarukan,” ungkap Markus.
Melalui riset ini, pemanfaatan biomassa sawit dihubungkan dengan inovasi rekayasa mikrostruktur untuk menghasilkan teknologi energi bersih yang berdaya guna. Upaya tersebut menjadi bagian dari pengembangan superkapasitor di Indonesia.***