BPS: Sawit Naik 7,29 Persen, Bengkulu Jadi Provinsi dengan NTP Tertinggi

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) Agustus 2025 mencapai 123,57. Bengkulu menjadi provinsi dengan kenaikan tertinggi, ditopang subsektor perkebunan rakyat terutama kelapa sawit yang melesat 7,29 persen.

BERITA

Arsad Ddin

4 September 2025
Bagikan :


Jakarta, HAISAWIT - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2025 mengalami peningkatan menjadi 123,57. Angka ini naik 0,76 persen dibandingkan bulan Juli 2025 yang sebesar 122,64.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa kenaikan NTP dipengaruhi oleh meningkatnya harga yang diterima petani dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Sejumlah komoditas utama menjadi penyumbang, termasuk kelapa sawit.

“NTP menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi,” ujar Pudji, dikutip dari laman Kementan, Kamis (4/9/2025).

Berdasarkan data BPS, kenaikan terbesar terjadi di Provinsi Bengkulu dengan peningkatan NTP sebesar 3,89 persen. Pendorong utamanya berasal dari subsektor perkebunan rakyat, terutama komoditas kelapa sawit yang naik hingga 7,29 persen.

Selain Bengkulu, terdapat 25 provinsi lain yang juga mencatat kenaikan NTP pada Agustus 2025. Secara rinci, subsektor tanaman pangan naik 2,40 persen, perkebunan rakyat naik 1,24 persen, dan perikanan meningkat 0,78 persen.

Kementerian Pertanian menilai capaian ini menjadi sinyal positif bagi kesejahteraan petani. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa tren tersebut memperlihatkan daya beli petani mengalami penguatan pada periode tersebut.

“Kenaikan NTP menunjukkan bahwa daya beli petani terus membaik. Angka tersebut menandakan petani memiliki surplus, di mana nilai produksi yang diterima lebih besar dibanding biaya yang dikeluarkan,” ujar Amran.

Ia menambahkan, hasil yang tercermin dari data tersebut tidak terlepas dari program strategis Kementan, mulai dari percepatan tanam dan panen raya, penyediaan pupuk bersubsidi, hingga mekanisasi pertanian.

“Kementan akan terus memastikan setiap rupiah hasil panen yang diterima petani memberikan nilai tambah nyata bagi kesejahteraan mereka,” ucap Amran.

Data BPS juga menunjukkan, komoditas gabah, kelapa sawit, jagung, dan bawang merah menjadi faktor utama penggerak kenaikan harga yang diterima petani. Hal ini sekaligus menegaskan posisi kelapa sawit sebagai salah satu penyumbang terbesar dalam penguatan subsektor perkebunan rakyat.

Pada periode yang sama, kenaikan NTP memberikan gambaran bahwa subsektor perkebunan, termasuk kelapa sawit, berperan penting dalam meningkatkan daya beli petani di berbagai daerah. Bengkulu tercatat sebagai daerah dengan kontribusi paling menonjol di bulan Agustus 2025.***

Bagikan :

Artikel Lainnya