ITB Kembangkan Katalis Sawit untuk Produksi Bensin Ramah Lingkungan

Dosen muda ITB, Virdi Chaerusani, memaparkan inovasi katalis sawit yang mempercepat reaksi kimia hingga miliaran kali lebih cepat. Teknologi ini berpotensi mengubah limbah sawit menjadi bensin hijau pengganti bahan bakar fosil.

BERITA HAI INOVASI SAWIT

Arsad Ddin

28 Agustus 2025
Bagikan :

Dosen muda teknik kimia dan bioenergi ITB Virdi Chaerusani memaparkan riset katalis sawit pada Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025, Sabtu (9/8/2025). (Foto: RRI/Tsalisa)

Bandung, HAISAWIT - Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui riset dosen muda teknik kimia dan bioenergi memperkenalkan pengembangan katalis sawit yang mampu menghasilkan bensin ramah lingkungan. Inovasi ini diperkenalkan saat Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2025.

Pengembangan katalis tersebut dilakukan oleh Virdi Chaerusani, dosen teknik kimia dan bioenergi ITB. Ia menjelaskan bahwa riset katalis ini masih berada pada tahap uji coba skala pilot dengan kapasitas produksi sekitar seribu liter per hari.

Menurut Virdi, katalis menjadi kunci dalam mempercepat reaksi kimia yang mengubah minyak sawit menjadi bensin. Teknologi ini membuka peluang baru pemanfaatan sawit sebagai sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil.

“Katalis ini sangat penting untuk mengubah limbah sawit menjadi bensin yang bisa digunakan sebagai bahan bakar. Proses riset kami masih berjalan dan kapasitasnya mencapai seribu liter per hari,” ujar Virdi, dikutip dari laman rri.co.id, Kamis (28/8/2025).

Ia menambahkan, riset tersebut dijalankan secara bertahap mulai dari skala laboratorium. Setelah uji coba skala kecil, riset dilanjutkan dengan pengembangan ke skala pilot untuk membuktikan konsistensi produksi bahan bakar berbasis sawit.

Tahap berikutnya, kata Virdi, adalah proses menuju komersialisasi. Langkah ini ditargetkan agar produk bensin sawit dapat digunakan secara luas oleh masyarakat dalam mendukung transisi energi ramah lingkungan.

“Proses produksi dimulai dari laboratorium dan akan naik ke skala pilot. Tahap berikutnya adalah menuju komersialisasi agar bisa digunakan masyarakat luas,” jelasnya.

Selain menghasilkan bensin, riset ini juga diarahkan untuk mengintegrasikan pemanfaatan limbah sawit. Limbah padat seperti sterin diproyeksikan dapat diolah lebih lanjut, sementara fraksi cair berpotensi menjadi minyak makan berkualitas.

Alumni ITB, Aufa Rafiki Nisya, turut menyampaikan pandangan terkait peran katalis dalam riset tersebut. Ia menjelaskan bahwa katalis mampu mempercepat reaksi sekaligus mengarahkan produk kimia sesuai kebutuhan riset energi sawit.

“Katalis dapat mempercepat reaksi hingga miliaran kali lebih cepat. Selain itu, katalis mengarahkan minyak sawit menjadi bensin dan bukan produk lain,” kata Aufa.

Melalui riset ini, ITB juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat perkembangan teknologi energi terbarukan berbasis sawit. Saat ini, produksi bensin sawit masih dalam tahap penelitian dan pengembangan sebelum bisa dipasarkan secara komersial.***

Bagikan :

Artikel Lainnya