Dua guru besar Universitas Riau melakukan riset kelembagaan adaptif di Bengkalis. Kajian ini diarahkan untuk memperkuat posisi tawar petani sawit swadaya sekaligus mendukung pembangunan perkebunan berkelanjutan.
Arsad Ddin
2 September 2025Dua guru besar Universitas Riau melakukan riset kelembagaan adaptif di Bengkalis. Kajian ini diarahkan untuk memperkuat posisi tawar petani sawit swadaya sekaligus mendukung pembangunan perkebunan berkelanjutan.
Arsad Ddin
2 September 2025
Bengkalis, HAISAWIT - Dua guru besar dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau memimpin riset tentang model kelembagaan adaptif bagi petani sawit swadaya di Kabupaten Bengkalis.
Riset bertajuk “Model Kelembagaan Adaptif untuk Penguatan Daya Saing dan Ketahanan Petani Swadaya Kelapa Sawit” bertujuan memperkuat posisi petani dalam menghadapi tantangan pasar dan pembangunan berkelanjutan.
Tim peneliti terdiri dari Prof. Dr. Zaili Rusli, Prof. Dr. Seno Andri, Dr. Dadang Mashur, Dr. Zulkarnaini, Mimin Sundari Nasution, dan peneliti muda Masrul Ikhsan.
Kegiatan awal meliputi observasi serta pengumpulan data primer dan sekunder, dimulai dari Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkalis.
Selanjutnya tim menggelar Focus Group Discussion dengan petani, kepala desa, pengurus KUD, Kepala Bidang PHP Dinas Perkebunan, Kepala UPT Pembibitan dan penyuluh pertanian Kecamatan Bantan.
Prof. Dr. Zaili Rusli mengatakan riset ini penting untuk menciptakan perubahan nyata bagi petani sawit swadaya.
“Petani swadaya memiliki potensi besar dalam menyumbang produksi kelapa sawit nasional. Namun, mereka masih lemah dari sisi kelembagaan dan posisi tawar. Lewat riset ini, kami ingin membangun model kelembagaan yang adaptif, yang mampu memperkuat mereka dari dalam,” ujar Prof. Zaili, dikutip dari laman Diskominfotik Bengkalis, Selasa (2/9/2025).
Prof. Dr. Seno Andri menyampaikan tantangan tidak hanya pada produksi, tetapi juga pada rantai distribusi dan akses ke pasar.
“Banyak petani kita masih tergantung pada tengkulak. Kita ingin hadirkan solusi kelembagaan yang bisa menjadi jembatan agar petani punya akses langsung ke pasar dan pembeli besar. Itu akan berdampak langsung pada kesejahteraan mereka,” jelas Prof. Seno.
Hasil awal riset dibawa ke Bappeda Kabupaten Bengkalis untuk menyinergikan temuan dengan rencana pembangunan daerah.
Tim peneliti menyebut dukungan Bappeda penting agar temuan dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program kerja.
Kolaborasi akademisi, pemerintah daerah, dan kelompok petani menjadi bagian dari kegiatan riset di Bengkalis.***