Integrasi sapi dengan kebun sawit kian diperluas. Program ini tidak hanya mendorong percepatan swasembada daging nasional, tetapi juga terbukti mampu menghemat biaya pupuk herbisida hingga 30 persen di perkebunan.
Arsad Ddin
23 Agustus 2025Integrasi sapi dengan kebun sawit kian diperluas. Program ini tidak hanya mendorong percepatan swasembada daging nasional, tetapi juga terbukti mampu menghemat biaya pupuk herbisida hingga 30 persen di perkebunan.
Arsad Ddin
23 Agustus 2025
Banjarbaru, HAISAWIT – Integrasi peternakan sapi dengan perkebunan kelapa sawit dinilai membawa manfaat ganda. Selain menambah pasokan daging nasional, sistem ini juga mampu menekan biaya pupuk dan perawatan kebun hingga 30 persen.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalimantan Selatan, Suparmi, menyebut lahan sawit di wilayahnya memiliki potensi besar untuk mendukung program integrasi sapi.
“Kami berinisiatif untuk memanfaatkan secara maksimal semua sumberdaya lahan, baik itu lahan perkebunan, lahan tanaman pangan, lahan pemutaran yang bisa dimanfaatkan untuk pangan, maupun lahan bekas ekstraksi tambang,” ujar Suparmi, dikutip dari laman Ditejen PKH Kementan, Minggu (17/8/2025).
Suparmi menjelaskan, dari total 16,38 juta hektar kebun sawit di Indonesia, sekitar 4,4 juta hektar direkomendasikan untuk program Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA). Potensi ternak sapi yang bisa ditampung diperkirakan mencapai 2,2 juta ekor.
Direktur Pakan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, turut mengapresiasi langkah pemerintah daerah Kalimantan Selatan. Ia menyebut integrasi sapi dengan sawit bukan hanya bermanfaat untuk peternakan, tetapi juga memberi dampak pada ekonomi masyarakat.
“Ini menjadi momen penting untuk menguatkan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” kata Tri Melasari.
Tri menambahkan, kehadiran sapi di kebun sawit membawa dampak efisiensi pemeliharaan kebun.
“Dengan adanya sapi di kebun kelapa sawit dapat mengurangi biaya pupuk herbisida kurang lebih 30%,” tegas Tri.
Di Kalimantan Selatan, luas perkebunan sawit mencapai 504 ribu hektar. Dari jumlah tersebut, sekitar 86 persen dikelola perusahaan, sementara sisanya dimiliki pekebun rakyat.
Hingga kini, sebanyak 13 perusahaan perkebunan sawit di Kalimantan Selatan telah menandatangani komitmen penerapan SISKA. Pemerintah menargetkan program ini segera dapat berjalan di lapangan.
Potensi integrasi sapi–sawit di wilayah ini terkait upaya mendukung swasembada daging dan efisiensi biaya pada perkebunan.***