
Bogor, HAISAWIT - Inovasi teknologi tanah dinilai menjadi kunci dalam mengubah jutaan hektare lahan marginal di Indonesia menjadi lebih produktif, termasuk untuk perkebunan kelapa sawit. Hal ini dipaparkan Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Suwardi.
Dalam paparannya, ia menyebut sebagian besar daratan Indonesia masih menghadapi kendala produktivitas akibat faktor fisik, kimia, maupun biologi tanah. Kondisi ini menuntut penerapan teknologi khusus agar lahan yang terbatas bisa dioptimalkan.
“Saat ini, hampir 82 persen daratan Indonesia atau sekitar 157 juta hektare tergolong lahan marginal dengan produktivitas rendah akibat kendala fisik, kimia, dan biologi tanah,” ujar Prof Suwardi, dikutip dari laman IPB, Minggu (24/8/2025).
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan zeolit dan biochar. Kedua bahan ini terbukti efektif dalam memulihkan kualitas tanah, sekaligus meningkatkan hasil pertanian dan perkebunan, termasuk komoditas strategis seperti kelapa sawit.
Prof Suwardi menegaskan penerapan teknologi tanah memiliki peran besar dalam pertanian regeneratif. Sistem ini dapat mengembalikan kesuburan tanah, menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus mendukung keberlanjutan pangan nasional.
“Jika gurun di belahan dunia lain dapat dihijaukan, lahan marginal Indonesia pun bisa dipulihkan,” ucapnya penuh keyakinan.
Lebih dari dua dekade meneliti, ia menghasilkan berbagai teknologi pemulihan tanah, mulai dari penggunaan kompos, kapur, biochar, bahan humat, hingga zeolit. Kombinasi tersebut telah memberikan dampak nyata di sejumlah daerah.
“Teknologi ini terbukti meningkatkan hasil padi di tanah sulfat masam di Jambi dari 1–2 ton/ha menjadi 5–6 ton/ha, serta mengoptimalkan lahan gambut dan bekas tambang untuk kelapa, kelapa sawit, dan hutan tanaman industri,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi pupuk berbasis NPK–Zeolit dengan Controlled Release Fertilizer (CRF) terbukti mampu meningkatkan hasil berbagai komoditas hingga 10–15 persen lebih tinggi dibanding pupuk konvensional.
“Teknologi ini sangat membantu memulihkan hara pada tanah masam dan memulihkan degradasi bahan organik. Pengelolaannya juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman sehingga tercapai efisiensi nutrisi yang lebih baik,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor.
“Petani lokal juga mesti berkolaborasi dengan perusahaan besar, misalnya pada pengelolaan kebun sawit di lahan gambut agar posisinya tidak tersingkirkan,” kata Prof Suwardi.***