
Ilustrasi penggunaan drone di perkebunan kelapa sawit. (Foto Ilustrasi HaiSawit)
Jakarta, HaiSawit – Implementasi teknologi pesawat tanpa awak pada sektor perkebunan kelapa sawit mulai menunjukkan nilai ekonomis yang signifikan bagi perusahaan melalui percepatan pengembalian modal atau Break Even Point (BEP) dalam waktu singkat.
Efisiensi biaya operasional dan peningkatan output kerja harian menjadi pendorong utama bagi manajemen perkebunan untuk segera beralih dari metode manual. Langkah investasi ini dinilai sangat kompetitif jika dibandingkan dengan penggunaan alat mekanisasi traktor.
R&D Manager PT Tribuana Solusi Inovasi Teknologi, Suripto Silaban, memaparkan analisis finansial terkait penggunaan alat ini di lapangan. Menurut perhitungannya, arus kas perusahaan akan segera pulih setelah beberapa bulan penggunaan alat secara konsisten.
"Investasi itu kan panjang ya, kalau kita ngitung secara cash flow mungkin 4 bulan sampai 6 bulan itu balik modal sebenarnya hitungan saya menggunakan drone," ujar Suripto, dalam acara OPSI Eps. 6, HaiSawit TV, yang dipandu Darussalam.
Analisis ini didasari pada kemampuan satu unit teknologi udara tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan teknis secara cepat dan masif. Drone mampu beroperasi pada area ekstrem yang biasanya membutuhkan banyak tenaga kerja manusia serta biaya tinggi.
Penerapan teknologi ini juga diklaim memberikan efisiensi yang lebih baik daripada sekadar menyewa jasa pihak ketiga. Kepemilikan aset secara mandiri memungkinkan perusahaan mengatur jadwal pemeliharaan tanaman dengan lebih fleksibel sesuai kebutuhan lapangan.
Suripto menambahkan bahwa perhitungan masa pengembalian modal ini sangat dipengaruhi oleh volume pekerjaan harian. Semakin tinggi intensitas penggunaan alat untuk pemupukan dan penyemprotan, maka titik impas investasi akan tercapai dengan lebih cepat.
"Dari sisi saya sebenarnya pasti investasi itu kan panjang ya, kalau kita ngitung setahun kalau kita hitung BEP-nya mungkin kalau secara cash flow mungkin 4 bulan 6 bulan itu balik modal sebenarnya hitungan saya," tuturnya menjelaskan potensi keuntungan finansial tersebut.
Harga perangkat di pasar saat ini juga mulai menyesuaikan dengan kapasitas output yang dihasilkan. Perbandingan harga antar tipe drone terbaru menunjukkan tren peningkatan fitur yang signifikan meski selisih biaya investasinya relatif tidak terlalu jauh berbeda.
"Sekarang harga drone T100 kan 350 jutaan ya sekarang ini ya, untuk yang generator dibanding dengan mungkin tahun lalu 2024 itu ada T50 itu harganya 198 juta," ungkap Suripto merinci nilai investasi perangkat terkini di pasar nasional.
Beberapa fakta teknis yang mempercepat pengembalian investasi meliputi:
- Kemampuan angkut drone T100 mencapai dua kali lipat dari tipe sebelumnya.
- Biaya operasional listrik dan baterai lebih rendah daripada konsumsi bahan bakar minyak kendaraan berat.
- Pengurangan risiko kerugian akibat serangan hama yang tertangani lebih cepat.
Masa pakai satu unit perangkat drone diperkirakan mencapai satu hingga satu setengah tahun sebelum membutuhkan peremajaan. Namun, efisiensi yang dihasilkan selama periode tersebut sudah jauh melampaui nilai pembelian perangkat awal bagi perusahaan.
Sebagai pendukung operasional, manajemen wajib menyiapkan infrastruktur pendamping seperti unit mobil pengangkut dan sumber daya listrik di lapangan. Kelengkapan ini memastikan unit terbang dapat bekerja optimal untuk mengejar target pengembalian modal sesuai estimasi.***