
Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit - HaiSawit/Arsad Ddin
Pekanbaru, HAI SAWIT - Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Riau menilai hilirisasi kelapa sawit penting bagi struktur ekonomi masa depan, seiring pertumbuhan ekonomi Riau mencapai 4,98 persen pada triwulan III 2025.
Capaian tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Bappeda Riau Purnama Irwansyah yang menyebut pertumbuhan ekonomi daerah meningkat signifikan pascapandemi, melampaui capaian sebelum 2020 yang selama bertahun-tahun tidak pernah menembus tiga persen.
Dalam paparan kinerja ekonomi daerah, Purnama Irwansyah menjelaskan lonjakan pertumbuhan terjadi pada triwulan III 2025 dan menjadi catatan penting bagi perencanaan pembangunan ekonomi Riau ke depan.
“Triwulan III 2025 Riau pertumbuhannya Alhamdulillah lebih baik lagi, 4,98 persen. Ini sepertinya yang tidak pernah kita mimpikan sebelumnya sebelum 2020,” ujar Purnama Irwansyah, dikutip dari laman Mediacenter Riau, Minggu (21/12/2025).
Ia menyebut perbaikan kinerja ekonomi tersebut terjadi seiring meningkatnya aktivitas produktivitas di Riau setelah pandemi, meski struktur ekonomi daerah masih menghadapi tantangan dari ketergantungan sektor migas dan pengolahan sawit dalam bentuk crude palm oil (CPO).
Selama ini, migas menjadi penopang utama ekonomi Riau dengan kontribusi pernah melampaui 30 persen, namun perannya mulai menurun akibat kondisi sumur tua dan tingginya biaya eksploitasi.
Menjelaskan arah pembangunan ekonomi berikutnya, Purnama memaparkan perlunya pergeseran menuju industri pengolahan sebagai sektor yang dinilai lebih prospektif bagi ekonomi Riau ke depan daerah.
“Saat ini yang paling ke depan adalah industri pengolahan. Artinya kami coba untuk mulai melupakan migas, walaupun masih banyak, tetapi karena kondisinya sumur tua dan perlu cost yang besar untuk mengangkat minyak,” ujarnya Purnama.
Dalam penjelasannya mengenai komoditas unggulan daerah, Purnama Irwansyah menyinggung besarnya potensi kelapa sawit Riau yang masih dominan diolah pada tahap hulu saat ini ekonomi daerah.
“Dengan CPO saja, kita bisa tumbuh 4,98 persen. Bagaimana kalau hilirisasi dibawa ke Riau, tidak dibawa ke luar untuk diolah, itu akan jauh lebih cepat lagi pertumbuhannya,” lanjutnya.
Berdasarkan data yang disampaikan, dari sekitar sembilan juta hektare daratan Riau, lebih kurang empat juta hektare merupakan perkebunan kelapa sawit yang sebagian besar masih menghasilkan CPO.
Selain sawit, Riau juga memiliki potensi kehutanan, kelapa rakyat, karet, serta sagu, dengan sebagian besar pengolahan masih terbatas pada produk setengah jadi dan memerlukan inovasi ekonomi.***