Industri kelapa sawit disebut menjadi sektor strategis penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Lebih dari 16 juta orang menggantungkan hidup pada sektor ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Arsad Ddin
10 September 2025Industri kelapa sawit disebut menjadi sektor strategis penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Lebih dari 16 juta orang menggantungkan hidup pada sektor ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Arsad Ddin
10 September 2025
Jakarta, HAISAWIT - Industri sawit tercatat menjadi sektor strategis yang menyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Jumlah pekerja yang terlibat di perkebunan kelapa sawit mencapai 16,5 juta orang, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan peran vital industri sawit bagi perekonomian nasional. Pesan tersebut ia utarakan saat menjadi pembicara kunci dalam The 3rd IPOWU (International Palm Oil Workers United) International Meeting di Jakarta, Senin (8/9/2025).
"Industri kelapa sawit memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Karena itu, penting untuk terus menjaga keseimbangan antara keberlanjutan industri dan kesejahteraan pekerja,” ujar Yassierli, dikutip dari laman Kemnaker, Rabu (10/9/2025).
Data Kementerian Pertanian menyebutkan, dari total pekerja sawit, 9,7 juta orang adalah tenaga kerja langsung. Jumlah itu terdiri dari 5,2 juta pekerja perkebunan rakyat dan 4,5 juta karyawan perusahaan negara maupun swasta.
Selain tenaga kerja langsung, terdapat pula 8 juta orang yang bekerja tidak langsung di sektor sawit. Aktivitasnya meliputi pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS), distribusi Crude Palm Oil (CPO), hingga penyediaan sarana produksi dan perlengkapan kantor.
"Sisanya 8 juta orang merupakan tenaga kerja tak langsung yang bergerak pada kegiatan pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS) dan Minyak Sawit Mentah (CPO), supplier pupuk dan alat-alat perkebunan, supplier alat-alat kantor, dan kegiatan lainnya yang terkait dengan perkebunan kelapa sawit," ungkap Yassierli.
Pada kesempatan itu, Yassierli juga menyampaikan pentingnya komunikasi yang baik antara pengusaha dan pekerja. Dialog sosial dipandang sebagai salah satu pilar untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih layak.
"Kemnaker selalu mendukung upaya-upaya memperkuat hubungan bipartit di dunia kerja. Dialog sosial yang baik adalah fondasi utama untuk menciptakan dunia kerja yang lebih adil, berkelanjutan, dan produktif,” jelasnya.
Acara The 3rd IPOWU International Meeting kali ini mengusung tema “Kerja Layak di Perkebunan Kelapa Sawit: Perspektif Global. Kebijakan Rantai Pasok, Kesetaraan Gender, dan Dampak Agrokimia.” Pertemuan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan sektor sawit.
Industri sawit bukan hanya menjadi tulang punggung ekspor nasional, tetapi juga berperan besar dalam pembangunan pedesaan. Kontribusi ini membuatnya menjadi salah satu sektor paling strategis dalam perekonomian Indonesia.
Catatan resmi menunjukkan peningkatan jumlah pekerja sawit dari 12,5 juta orang pada 2015 menjadi 16,5 juta orang pada 2024. Angka tersebut menegaskan posisi sawit sebagai penyerap tenaga kerja terbesar di tanah air.***