
Fakultas Pertanian Universitas Jember menggelar talk show “Membangun Masa Depan Pertanian Berkelanjutan dan Sejahtera” di Auditorium Faperta UNEJ Jember pada Sabtu (30/8/2025). (Foto: Kemdiktisaintek)
Jember, HAISAWIT - Fakultas Pertanian Universitas Jember (Faperta UNEJ) menggelar talk show bertajuk “Membangun Masa Depan Pertanian Berkelanjutan dan Sejahtera” di Auditorium Fakultas Pertanian, Sabtu (30/8/2025). Acara ini dihadiri civitas akademika, mahasiswa, alumni, serta mitra usaha.
Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Jember, Dr. Fendi Setyawan. Ia menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjawab tantangan pertanian modern di Indonesia.
“Generasi muda harus mampu memadukan teknologi dengan kearifan lokal agar pertanian Indonesia tetap menjadi penopang utama ketahanan pangan,” ujar Fendi, dikutip dari laman Kemdiktisaintek, Rabu (17/9/2025).
Fendi juga menilai isu ketahanan pangan, alih fungsi lahan, dan fragmentasi lahan menjadi tantangan serius. Data menunjukkan sebagian besar petani Indonesia masih tergolong petani gurem dengan luas lahan yang terbatas.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember, Prof. M. Rondhi, dalam kesempatan yang sama menekankan peran perguruan tinggi dalam mendukung swasembada pangan melalui riset dan teknologi pertanian presisi.
“Melalui Fakultas Pertanian terus mendorong riset aplikatif, pengembangan teknologi pertanian presisi, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra usaha, kita harus menempatkan pertanian sebagai sektor strategis dalam pembangunan nasional. Mahasiswa dan alumni harus menjadi motor penggerak agar Indonesia tidak hanya swasembada, tetapi juga mampu bersaing dalam ekspor komoditas unggulan,” kata Prof. Rondhi.
Dalam sesi diskusi, Muhammad Habib, Ketua Mahareksi sekaligus alumni Fakultas Pertanian UNEJ, berbagi pandangan tentang peluang usaha di bidang pertanian. Ia menilai sektor ini terbuka luas dari hulu hingga hilir.
“Pertanian adalah sektor dengan peluang bisnis yang sangat besar, mulai dari produksi, hilirisasi, hingga distribusi. Yang diperlukan adalah keberanian, inovasi, serta kemampuan membangun jaringan,” ungkap Habib.
Pada konferensi pers, Setya Pribadi, Ketua Umum Bahtera Mitra Mahardika, menyampaikan program edukasi sawit berkelanjutan melalui kegiatan BMM Goes to Campus.
“Sawit ini dapat memenuhi kebutuhan pangan dan energi,” ucap Setya. Ia menilai pemahaman mahasiswa mengenai sawit penting untuk masa depan pertanian dan energi.
Setya juga menambahkan bahwa kelapa sawit masih menjadi komoditas unggulan Indonesia. Namun, industri ini dihadapkan pada tantangan tata kelola, keberlanjutan, dan isu lingkungan yang harus disikapi dengan pendekatan lebih baik.
Hal senada diungkapkan Agam Faturrohman, Deputy Head of Social Sustainability and Certification Bumitama Gunajaya Agro Group. Ia menyampaikan pandangan terkait transformasi industri sawit dengan penerapan sertifikasi berkelanjutan.
“Mahasiswa pertanian harus memahami bahwa kelapa sawit bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal tata kelola yang baik, transparan, dan bertanggung jawab,” ujar Agam.
Kegiatan ini turut menghadirkan mahasiswa yang menyampaikan pengalaman dan kesan mereka. Mahasiswi Agroteknologi Universitas Jember, Irma Kusuma, menilai talk show tersebut membuka wawasan tentang peluang pertanian modern, termasuk peran teknologi dalam sektor sawit.***