Efisiensi Biaya 50 Persen, Praktisi Rekomendasikan Drone untuk Pengendalian Hama Sawit

Implementasi teknologi drone pada sektor perkebunan kelapa sawit menawarkan efisiensi biaya hingga 50 persen bagi perusahaan. Inovasi ini mempermudah perawatan tanaman pada lahan ekstrem yang sulit dijangkau oleh tenaga kerja manusia.

BERITA

Arsad Ddin

5 Januari 2026
Bagikan :

Ilustrasi pemanfaatan teknologi drone di perkebunan sawit. (Foto Ilustrasi HaiSawit)

Jakarta, HaiSawit – Pemanfaatan teknologi pesawat tanpa awak atau drone kini menjadi solusi strategis guna meningkatkan efisiensi operasional pada sektor perkebunan kelapa sawit nasional di tengah tantangan kelangkaan tenaga kerja lapangan.

Penggunaan alat angkut udara otomatis tersebut terbukti mampu mengoptimalkan pekerjaan teknis yang sulit dijangkau manusia. Langkah inovatif ini mulai masif digunakan perusahaan untuk menekan biaya produksi dan mempercepat target kerja harian.

Praktisi perkebunan kelapa sawit, Idrus Marpaung, menjelaskan keunggulan penggunaan teknologi ini dibandingkan metode konvensional. Menurutnya, drone memiliki keunggulan kompetitif pada berbagai jenis pekerjaan pemeliharaan tanaman, terutama dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan.

"Pekerjaan hama, kemudian di pembibitan (nursery) maupun di penyemprotan gulma itu lebih murah kita pakai drone daripada yang lain. Jadi drone ini untuk sampai hal tertentu itu jauh lebih murah sebenarnya," ujar Idrus Marpaung, dalam acara OPSI Eps. 6, HaiSawit TV.

Teknologi ini bekerja dengan sistem penyemprotan melingkar yang memiliki lebar pancaran hingga 8 meter. Pola ini memastikan distribusi pestisida atau herbisida merata pada seluruh barisan tanaman tanpa ada area yang terlewatkan.

Implementasi teknologi ini juga menyasar sektor pembibitan yang membutuhkan akurasi tinggi. Kecepatan kerja drone memungkinkan luasan lahan belasan hektar dapat terselesaikan hanya dalam waktu satu hari kerja oleh sedikit personel saja.

Idrus menambahkan bahwa penggunaan alat ini sangat efektif untuk mengurangi ketergantungan pada jumlah pekerja manual yang masif. Hal tersebut menjadi jawaban atas kian sulitnya mencari tenaga kerja lapangan di area terpencil.

"Satu drone bisa menggantikan 40 orang. Satu drone itu cuma dilayani dua orang (operator)," ungkap pria yang aktif dalam Himpunan Profesional Kelapa Sawit Indonesia (HIPKASI) tersebut.

Analisis mendalam mengenai penghematan anggaran perusahaan menjadi fokus utama bagi manajemen perkebunan. Berdasarkan data lapangan, margin efisiensi yang tercipta dari peralihan metode manual ke digital ini menunjukkan angka yang sangat signifikan.

"Kalau pernah menghitung dengan cost ini, kira-kira bisa 50 persen penghematan cost-nya dari manual," tutur Idrus merinci perbandingan biaya operasional yang dikeluarkan oleh perusahaan selama proses pengujian di lapangan.

Selain efisiensi biaya, drone seri terbaru seperti T50 dan T100 mampu membawa beban hingga 100 kilogram. Kapasitas besar ini menunjang pekerjaan berat seperti pemupukan pada lahan rawa yang sulit dilalui kendaraan mekanis.

Sebagai data pendukung, berikut adalah rincian performa drone di perkebunan:

  • Kapasitas angkut pupuk mencapai 9 hingga 10 ton per hari.
  • Cakupan semprot ulat api mencapai 15 hektar per unit.
  • Estimasi balik modal investasi alat berkisar antara 4 sampai 6 bulan.

Pengembangan teknologi ini diprediksi akan terus meluas seiring meningkatnya kompetisi antarvendor penyedia jasa. Perusahaan perkebunan kini mulai mempertimbangkan pembentukan divisi internal khusus untuk mengelola aset teknologi tinggi ini secara mandiri.***

Bagikan :

Artikel Lainnya