Ekspor Minyak Sawit Indonesia Tembus 25 Juta Ton, Naik 13,4 Persen Tahun Ini

Ekspor minyak sawit Indonesia hingga September 2025 mencapai 25 juta ton, naik 13,4 persen dari tahun lalu. Produksi CPO nasional meningkat, konsumsi domestik naik, dan devisa negara tercatat US$ 27,3 miliar.

BERITA

Arsad Ddin

16 November 2025
Bagikan :

Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit - Hai Sawit

Bali, HAI SAWIT – Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia sepanjang 2025 mengalami peningkatan signifikan. Hingga September, volume ekspor CPO dan produk turunannya mencapai lebih dari 25 juta ton, naik 13,4 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Data Gapki menunjukkan lonjakan ekspor ini mendorong devisa negara sebesar US$ 27,3 miliar. Kenaikan ini membuat minyak sawit tetap menjadi penyumbang devisa terbesar bagi perekonomian nasional.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyampaikan bahwa produksi nasional juga mengalami percepatan.

“Kinerja industri sawit menunjukkan sedikit percepatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu,”ujar Eddy Martono, dikutip dari laman Gapki, Minggu (16/11/2025).

Produksi CPO nasional hingga September 2025 tercatat lebih dari 43 juta ton. Peningkatan 11 persen dibandingkan tahun lalu menunjukkan efektivitas pengelolaan kebun sawit dan pemulihan pasca beberapa tantangan produksi sebelumnya.

Selain CPO, ekspor produk olahan, oleokimia, dan biodiesel juga berkontribusi besar terhadap pertumbuhan devisa. Permintaan global untuk minyak sawit Indonesia tetap tinggi, terutama dari negara-negara Asia dan Eropa.

Konsumsi domestik minyak sawit juga mencatat kenaikan, dari 17,6 juta ton menjadi 18,5 juta ton. Peningkatan ini didorong oleh kebutuhan industri pangan, oleokimia, serta program energi berbasis biodiesel yang sedang dijalankan pemerintah.

Eddy Martono menekankan pentingnya penguatan tata kelola industri. Sertifikasi ISPO menjadi bagian krusial dalam menjaga keberlanjutan dan daya saing minyak sawit di pasar global.

“ISPO tidak boleh menjadi sekadar simbol. Ini adalah produk kedaulatan bangsa dan harus menjadi standar emas global,” ujar Eddy Martono, dikutip dari laman Gapki, Minggu (16/11/2025).

Selain sertifikasi, faktor kebijakan energi juga dianggap strategis. Perluasan penggunaan biodiesel nasional mendukung stabilitas permintaan dan mengurangi ketergantungan pasar ekspor tunggal.

Para pelaku industri sawit menilai dinamika perdagangan internasional tetap menjadi tantangan. Perubahan regulasi di negara mitra dan isu geopolitik menjadi perhatian utama bagi keberlanjutan ekspor minyak sawit Indonesia.

Volume ekspor dan kinerja produksi hingga September 2025 menunjukkan posisi Indonesia di pasar global tetap kuat. Minyak sawit tetap menjadi komoditas strategis, dengan kontribusi signifikan terhadap devisa dan stabilitas industri nasional.***

Bagikan :

Artikel Lainnya