Tim Ekspedisi Patriot UGM Petakan Peluang Hilirisasi Sawit di Kawasan Transmigrasi Merauke

Tim Ekspedisi Patriot Universitas Gadjah Mada (UGM) memetakan potensi hilirisasi sawit di kawasan transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan. Kajian ini menjadi bagian dari riset nasional yang digagas Kementerian Transmigrasi untuk mengidentifikasi komoditas unggulan dan peluang pengembangan ekonomi berbasis perkebunan berkelanjutan.

BERITA

Arsad Ddin

21 Oktober 2025
Bagikan :

Tim Ekspedisi Patriot Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan riset di kawasan transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan, Senin (20/10/2025). (Foto: Dok. UGM)

Yogyakarta, HAISAWIT – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan kajian mendalam terhadap potensi komoditas unggulan di kawasan transmigrasi Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Salah satu fokus utama riset ini adalah pemetaan peluang hilirisasi industri kelapa sawit di wilayah tersebut untuk memperkuat nilai tambah ekonomi masyarakat transmigrasi.

Kajian dilakukan bersama Kementerian Transmigrasi dan melibatkan lima tim riset dari UGM dan Universitas Indonesia. Dari hasil identifikasi lapangan, tim menemukan beragam komoditas yang berkembang di Distrik Muting dan Ulilin, termasuk perkebunan sawit yang menjadi salah satu sektor andalan masyarakat.

Ketua tim ekspedisi, Dwi Ardianta Kurniawan, menjelaskan bahwa timnya telah melakukan pengamatan sejak akhir Agustus hingga awal Oktober. Dari hasil sementara, ditemukan perbedaan karakter komoditas di sejumlah kampung yang menggambarkan potensi pertanian dan perkebunan yang cukup besar.

“Meski bervariasi, tim ekspedisi sementara menyimpulkan ada satu komoditas utama yang ditemukan hampir di seluruh kampung, yaitu rambutan,” ujar Dwi, dikutip dari laman UGM, Selasa (21/10/2025).

Selain buah rambutan, hasil survei lapangan menunjukkan adanya komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, karet, pinang, dan kopi. Potensi ini dipandang dapat mendukung pengembangan ekonomi berbasis perkebunan yang lebih terarah dan berkelanjutan di kawasan transmigrasi.

Ir. Agam Marsoyo, M.Sc., Ph.D., dosen Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota UGM, menilai pengembangan komoditas unggulan perlu mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam yang tidak tepat dapat menimbulkan dampak lingkungan di masa depan.

“Diperlukan pasar yang mampu menyerap hasil-hasil, karena pengalaman sebelumnya seperti komoditas karet menunjukkan tidak adanya pasar yang membeli hasil produksi menyebabkan petani mengalami kerugian,” ujarnya.

Agam menambahkan, antusiasme masyarakat terhadap budidaya sawit di Merauke cukup tinggi. Namun, diperlukan pola kemitraan yang kuat antara pemilik lahan dengan industri sawit agar hasil panen dapat terserap dengan baik. Skema koperasi masyarakat dan perusahaan di Distrik Muting dinilai menjadi contoh yang bisa diperkuat di wilayah lain.

“Bagaimanapun sawit adalah komoditas yang menjanjikan dan memberikan pendapatan yang rutin, tetapi untuk jangka panjang perlu dicarikan solusi untuk mengatasi potensi terjadinya kekeringan,” ungkapnya.

Kegiatan Ekspedisi Patriot UGM ini akan berlangsung hingga awal Desember 2025. Selama periode tersebut, empat anggota tim dijadwalkan menetap di kawasan transmigrasi Muting untuk melakukan observasi dan pengumpulan data sekunder dari instansi terkait sebelum hasil akhir kajian diserahkan kepada Kementerian Transmigrasi.***

Bagikan :

Artikel Lainnya