Produktivitas Sawit Rakyat Masih 47 Persen di Bawah Potensi Genetik, Benih Unggul Jadi Solusi

Produktivitas sawit rakyat di Indonesia tercatat masih 47 persen di bawah potensi genetik varietas unggul. Pemulia nasional menilai benih adaptif menjadi kunci untuk mengoptimalkan produksi di tengah tantangan iklim dan agroklimat beragam.

BERITA

Arsad Ddin

13 Agustus 2025
Bagikan :

Dwi Asmono memaparkan materi kuliah ilmiah Indonesia Innovator Lecture (IIL) 2025 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (11/8/2025). (Foto: Dok. BRIN)

Jakarta, HAISAWIT – Produktivitas sawit rakyat di Indonesia masih berada 47 persen di bawah potensi genetik varietas unggul yang bisa mencapai 8–9 ton CPO per hektare per tahun.

Hal ini disampaikan Ir. Dwi Asmono, MS., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng, Direktur PT Sampoerna Agro Tbk, saat mengisi kuliah ilmiah Indonesia Innovator Lecture (IIL) 2025 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (11/8). Acara ini menjadi bagian rangkaian Indonesia Innovator Award (IIA) 2025 yang digelar BRIN dan LPDP.

“Di era krisis iklim dan geopolitik pangan dan energi, benih adalah awal dari segalanya,” ujar Dwi, dikutip dari laman BRIN, Rabu (13/8/2025).

Ia mengungkapkan, potensi genetik varietas unggul sawit belum terwujud optimal di lapangan. Rata-rata produktivitas nasional masih di bawah 4 ton per hektare per tahun, dengan gap 37 persen di perkebunan besar dan 47 persen di perkebunan rakyat.

“Benih itu kecil, tapi memberi harapan besar,” ucapnya.

Menurut Dwi, varietas unggul harus mampu beradaptasi dengan beragam agroklimat di Indonesia. Ia menegaskan bahwa produksi benih tidak boleh hanya cocok di satu wilayah tertentu.

“Kita tidak bisa hanya menghasilkan benih yang cocok di satu wilayah. Indonesia punya agroklimat beragam, varietas harus adaptif,” katanya.

Ia memaparkan, pada kondisi normal, 50 persen wilayah Indonesia cocok untuk sawit. Namun, saat El Niño, luas wilayah yang sesuai turun menjadi 29 persen.

Varietas yang dikembangkan timnya antara lain DxP Simalungun, DxP Langkat, dan DxP Sriwijaya. Varietas tersebut memiliki daya adaptasi di lahan kering, produktivitas tinggi, serta tingkat kontaminasi non-tenera yang rendah.

Benih-benih tersebut telah ditanam di 25 provinsi dan juga diekspor ke Nigeria, India, Peru, serta Honduras. Menurut pemaparan Dwi, kapasitas produksi benih sawit nasional mencapai 540 juta butir per tahun, dengan distribusi sekitar 130 juta butir.

“Indonesia bukan hanya pengekspor minyak sawit. Kita adalah penjaga plasma nutfah, pemulia masa depan, dan pemimpin tropika yang membangun ketahanan pangan dan energi dunia—dimulai dari benih,” ujarnya.***

Bagikan :

Artikel Lainnya