Inovasi Teknologi Penyimpanan dan Filtrasi Biodiesel Sawit untuk Transportasi Laut

Penelitian tahun 2024 menunjukkan optimasi fuel conditioning dan desain filter pada tangki kapal mampu menurunkan kontaminan, sludge, serta deposit di injektor, menjadikan biodiesel kelapa sawit lebih aman digunakan di sektor maritim.

ARTIKEL

Arsad Ddin

29 Agustus 2025
Bagikan :

Ilustrasi suasana di pabrik kelapa sawit (Foto: bpdp.or.id)

Jakarta, HAISAWIT – Pemanfaatan biodiesel berbasis kelapa sawit di sektor transportasi laut menghadapi tantangan teknis, terutama terkait kualitas bahan bakar, sistem penyimpanan di tangki kapal, dan performa mesin Kapal Republik Indonesia (KRI).

Program biodiesel B35 kini diterapkan di sektor transportasi laut, termasuk kapal milik TNI Angkatan Laut. Namun, karakter mesin kapal berbeda dengan transportasi darat sehingga membutuhkan metode filtrasi dan pengondisian bahan bakar khusus.

Dikutip dari laman BPDP, Jumat (29/8/2025), penelitian tahun 2024 oleh tim ahli menemukan bahwa degradasi biodiesel pada tangki kapal dapat meningkatkan risiko filter blocking, kontaminasi, dan kerusakan injektor.

Tim peneliti merancang fuel conditioning untuk meminimalkan degradasi bahan bakar selama penyimpanan lama di kapal. Desain ini menyesuaikan dengan karakteristik tangki besar yang rentan terhadap kontaminan dan penyerapan air.

Selain itu, sistem filtrasi wasable dan ceramic filter dikembangkan agar kualitas biodiesel tetap stabil saat digunakan di kapal komersial maupun KRI. Teknologi ini dapat memisahkan sludge dan partikel halus yang berpotensi merusak mesin.

Penerapan SOP penggunaan biodiesel di sektor maritim menjadi bagian penting dari penelitian. Prosedur ini mengatur penyimpanan, filtrasi, dan pemeliharaan mesin sehingga risiko gangguan operasional kapal berkurang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimasi filter dan fuel conditioning dapat memperpanjang umur mesin dan mengurangi biaya perawatan akibat kerusakan yang ditimbulkan biodiesel yang terkontaminasi.

Biodiesel di kapal cenderung menyerap air dan memicu pertumbuhan bakteri atau jamur. Penanganan kualitas bahan bakar di tangki besar menjadi fokus utama agar performa kapal tetap optimal di laut.

Teknologi filtrasi dan pengondisian yang dikembangkan mampu menurunkan risiko deposit di injektor, menjadikan penggunaan B35 lebih aman untuk kapal. Sistem ini juga mempermudah pengelolaan bahan bakar dalam perjalanan laut panjang.

Optimasi desain filter juga meminimalkan kerusakan mesin akibat partikel halus dan sludge. Hasil uji menunjukkan bahan bakar tetap stabil meski berada di tangki besar untuk waktu yang lama.

Penelitian ini menjadi bagian dari upaya nasional untuk meningkatkan pemanfaatan biodiesel kelapa sawit di sektor maritim. Implementasi teknologi ini diharapkan memperkuat efisiensi operasional kapal dan kemandirian energi Indonesia di laut.***

Bagikan :

Artikel Lainnya