
Dok. YouTube Hai Sawit TV (Hai Tokoh Sawit)
Jakarta, HAISAWIT – Tokoh senior perkebunan, Ir. Hj. Delima Hasri Azahari, M.S., Ph.D., memaparkan besarnya pengaruh kepemimpinan perempuan dalam memperkuat posisi industri kelapa sawit nasional pada kancah perdagangan internasional yang sangat kompetitif.
Pengalaman panjang narasumber sebagai mantan Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) menunjukkan bahwa kombinasi pemikiran logis serta empati menjadi modal utama dalam menghadapi tekanan regulasi global saat ini.
Delima menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan perempuan memiliki karakteristik unik karena mampu menyeimbangkan aspek teknis dengan pendekatan kemanusiaan guna mencetak sumber daya manusia berkualitas tinggi bagi keberlangsungan sektor perkebunan nasional.
“Jadi perempuan memimpin sekali lagi bukan hanya dengan rasionalisasi atau rasional, tetapi juga dengan perasaan ya. Jadi segala sesuatu diperhitungkan tetapi juga selalu melibatkan bagaimana menuntun, bagaimana memimpin, dan mengajarkan bagaimana mendidik dan menjadikan seseorang menjadi lebih baik lagi.” ujar Delima, dikutip dari YouTube Hai Sawit TV, Kamis (05/02/2026).
Selain pada level pengambilan keputusan strategis, kontribusi nyata kaum perempuan juga terlihat sangat dominan pada aktivitas operasional di lapangan yang menjadi fondasi awal terjaganya kualitas standar produksi kelapa sawit.
“Perempuan sudah memberikan kontribusi kegiatan mulai dari memilah bibitnya, menumbuhkan benih sawitnya, kemudian juga menanam dan memelihara tanaman. Oleh karena itu peranan perempuan di sisi hulu juga sangat penting.” ungkapnya menjelaskan keterlibatan aktif di perkebunan.
Ketelitian perempuan dalam tahap pembibitan dan pemeliharaan tanaman memastikan produktivitas lahan tetap terjaga. Berikut adalah beberapa peran krusial perempuan pada rantai pasok industri sawit yang memberikan dampak signifikan bagi ekonomi:
- Pengawasan kualitas benih unggul pada unit pembibitan.
- Penyortiran brondolan selama proses panen guna menekan angka asam lemak bebas.
- Keterlibatan pada manajemen laboratorium pengolahan hasil pabrik.
Penguatan kapasitas tenaga kerja perempuan perlu dilakukan secara sistematis melalui berbagai program pelatihan teknis. Langkah tersebut bertujuan untuk memaksimalkan potensi kompetensi yang dimiliki agar mampu menjawab tantangan pasar dunia.
Kepiawaian dalam berkomunikasi dan berdiplomasi juga menjadi senjata ampuh bagi perempuan saat mewakili kepentingan Indonesia di meja perundingan dagang internasional guna melawan berbagai kampanye negatif terkait isu lingkungan hidup.
“Dan yang paling penting juga adalah perempuan dapat ditingkatkan peranannya di sisi manajemen dan di dalam kita melakukan negosiasi.” pungkas mantan negosiator World Trade Organization (WTO) tersebut saat memberikan pandangan mengenai penguatan organisasi.
Sinergi antara perusahaan besar swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan petani swadaya menjadi kunci stabilitas industri. Kehadiran perempuan dalam struktur manajemen organisasi besar tersebut memberikan warna baru bagi kebijakan persawitan.
Saat ini Indonesia berposisi sebagai produsen serta eksportir minyak sawit terbesar global. Transformasi peran perempuan pada sektor manajemen diharapkan memperkuat citra positif komoditas unggulan nasional ini di masa depan.***