Sawit Bukan Musuh Lingkungan, Ini Faktanya

Menolak sawit tidak mengurangi permintaan minyak nabati dunia, melainkan mendorong penggunaan komoditas lain yang boros lahan, sementara sawit legal membantu menjaga keseimbangan lingkungan secara global.

ARTIKEL

Arsad Ddin

25 Desember 2025
Bagikan :

Ilustrasi Perkebunan Sawit - HaiSawit/Arsad Ddin

Jakarta, HAI SAWIT – Kelapa sawit menghadapi kritik terkait dampak lingkungan, padahal tanaman ini menyuplai minyak nabati dunia dengan produktivitas tinggi, hemat lahan, dan dikelola secara legal dan berkelanjutan.

Permintaan minyak nabati global diperkirakan meningkat tajam hingga 2050, seiring pertumbuhan penduduk dunia dan meningkatnya konsumsi di negara berkembang seperti India dan Tiongkok.

Dilansir dari laman Gapki, Kamis (25/12/2025), minyak sawit menghasilkan sekitar 3–4 ton per hektar per tahun. Sebagai perbandingan, minyak kedelai hanya 0,4–0,5 ton, sedangkan rapeseed dan bunga matahari di bawah 1 ton per hektar.

Kelapa sawit mampu menyediakan lebih dari tujuh kali lipat minyak dibandingkan kedelai dengan lahan yang sama. Produktivitas tinggi ini membuat sawit menjadi sumber minyak nabati paling hemat lahan di dunia.

Secara regulasi, perkebunan sawit di Indonesia dibangun di atas lahan Hak Guna Usaha (HGU) dan berada di luar kawasan hutan. Pemerintah melarang kegiatan sawit di wilayah hutan secara tegas.

Proses perizinan HGU juga ketat, panjang, dan berlapis. Tidak ada mekanisme legal bagi sawit untuk membuka kawasan hutan. Pelanggaran yang terjadi merupakan kasus ilegal, bukan karakter industri sawit itu sendiri.

Jika sawit dibatasi, kebutuhan minyak nabati dunia tidak akan berkurang. Produksi akan beralih ke komoditas lain yang jauh lebih boros lahan, seperti kedelai dan rapeseed.

Penggantian sawit dengan komoditas lain berpotensi meningkatkan kebutuhan lahan global hingga ratusan juta hektar. Tekanan ini kemungkinan besar mendorong deforestasi di Amerika Selatan, Afrika, dan wilayah lain.

Kelapa sawit, dengan produktivitas tinggi dan pengelolaan di lahan legal, justru berperan sebagai penyangga hutan global. Sawit memungkinkan pemenuhan kebutuhan minyak dunia tanpa ekspansi pertanian besar.

Minyak nabati dari sawit membantu menekan pembukaan lahan di negara lain dan menjaga keseimbangan lingkungan. Tekanan deforestasi global meningkat hanya jika sawit diganti komoditas lain yang lebih boros lahan.***

Bagikan :

Artikel Lainnya