
Kementerian Transmigrasi melaksanakan peninjauan perkembangan kebun sawit transmigran di Desa Karya Harapan Mukti, Bungo, Kamis (7/12/2025). (Foto: Humas Kementerian Transmigrasi/ Muhammad Ihsanudin)
Bungo, HAI SAWIT – Kawasan Kuamang Kuning di Kabupaten Bungo menjadi salah satu contoh keberhasilan program transmigrasi yang berkembang melalui perkebunan sawit sejak dibuka pada 1985.
Erwin Taufan, generasi kedua transmigran, menceritakan perubahan hidup keluarganya setelah orangtuanya pindah dari Sragen, Jawa Tengah, ke Desa Karya Harapan Mukti yang kini menjadi sentra sawit.
“Saya bangga menjadi transmigran,” ujar Erwin Taufan, dikutip dari laman Kementerian Transmigrasi, Selasa (09/12/2025).
Kesejahteraan keluarga tersebut terlihat dari stabilnya pendapatan hasil panen sawit. Dari lahan delapan hektare, Erwin memperoleh sekitar Rp15 juta untuk setiap dua hektare setiap bulan.
Kondisi serupa terlihat di rumah-rumah lain di desa itu. Warga yang puluhan tahun menggarap sawit menunjukkan peningkatan taraf hidup melalui perumahan yang layak serta kepemilikan kendaraan pribadi.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menilai keberhasilan tersebut sebagai bukti perkembangan kawasan. Ia menyampaikan perspektif pemerintah dalam memajukan transmigrasi modern.
“Bila transmigran sejahtera maka program ini sesuai dengan harapan semua,” ujar Wamen Yoga.
Viva Yoga menjelaskan perkembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi berbeda-beda. Ia memberi contoh sejumlah daerah yang memiliki peluang pertanian yang beragam.
“Kalau di Bungo kita kembangkan sawit, sedang di daerah lain, misalnya di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat, potensi unggulannya adalah coklat, sedang di Gorontalo kelapa,” ujarnya.
Selain komoditas, pemerintah juga menilai perlunya langkah lanjutan untuk memperkuat pengelolaan. Industrialisasi kini mulai diterapkan di beberapa kawasan transmigrasi di Indonesia.
“Perlu kita bikin industrialisasi di kawasan transmigrasi,” tambahnya.
Di Kuamang Kuning, sebagian besar pohon sawit telah memasuki usia tua. Pemerintah pusat dan daerah menyiapkan rencana peremajaan pada lahan sekitar 10 ribu hektare.
Rencana peremajaan tersebut menjadi agenda penting bagi transmigran yang telah mengandalkan sawit sebagai sumber utama pendapatan selama puluhan tahun.***