Satu Drone Gantikan 40 Tenaga Kerja, Revolusi Penyemprotan Bibit Sawit di Nursery

Praktisi perkebunan mengungkapkan bahwa satu unit drone memiliki kemampuan operasional setara dengan 40 pekerja di sektor pembibitan. Peralihan teknologi ini bertujuan memangkas ketergantungan tenaga kerja sekaligus meningkatkan akurasi sebaran pestisida tanaman.

BERITA

Arsad Ddin

9 Januari 2026
Bagikan :


Jakarta, HAISAWIT – Implementasi teknologi drone pada area pembibitan kelapa sawit atau nursery memicu revolusi besar dalam efisiensi tenaga kerja melalui sistem penyemprotan otomatis yang mampu menjangkau luasan lahan secara masif.

Transformasi digital ini menjadi jawaban atas tingginya kebutuhan biaya perawatan bibit pada fase awal pertumbuhan. Peralihan metode dari manual ke teknologi udara memberikan percepatan durasi kerja yang sangat signifikan bagi perusahaan.

Praktisi perkebunan kelapa sawit, Idrus Marpaung, memberikan penjelasan mendalam mengenai perbandingan kapasitas kerja antara tenaga manusia dengan perangkat pesawat tanpa awak tersebut dalam menangani pemeliharaan bibit sawit yang sangat rawan serangan hama.

"Kalau di pembibitan, menyemprot secara manual itu satu hektar bisa butuh 3 sampai 4 orang. Nah, kalau pakai drone untuk nyemprot hama atau pestisida, satu unit itu bisa menjangkau sampai 15 hektar," ujar Idrus Marpaung, dalam acara OPSI Eps. 6, HaiSawit TV.

Sistem kerja alat ini menggunakan pola semprotan menyeluruh atau blanket dengan lebar sebaran mencapai 8 meter. Hal ini memastikan setiap barisan polibag bibit mendapatkan dosis pestisida yang merata dan presisi.

Keunggulan teknis tersebut memungkinkan unit terbang menyelesaikan tugas harian tanpa harus terkendala jalur sempit pada bedengan bibit. Operator cukup mengontrol navigasi alat dari jarak aman tanpa perlu terpapar langsung oleh cairan kimia.

Idrus menguraikan perhitungan konkret mengenai potensi penghematan sumber daya manusia yang dapat dicapai perusahaan. Menurutnya, rasio efisiensi yang dihasilkan mampu memangkas jumlah pekerja lapangan dalam skala yang sangat besar.

"Kita bisa menghemat banyak orang. Katakanlah tidak usah 15 hektar, cukup 10 hektar saja dikali 4 orang, itu sudah 40 orang. Jadi satu drone bisa menggantikan 40 orang pekerja," ungkap Idrus menjelaskan efektivitas alat tersebut.

Kecepatan operasional menjadi faktor kunci mengapa teknologi ini kini mulai banyak digunakan pada proyek penanaman baru. Perangkat ini sanggup menjaga ritme pengerjaan tetap tinggi meskipun luasan area pembibitan mencapai puluhan hektar.

"Jadi, satu unit drone dalam satu hari bisa menyelesaikan penyemprotan blanket seluas 15 hektar," ujar Idrus merinci data output harian yang dihasilkan oleh satu perangkat udara di area pembibitan perkebunan.

Data Efisiensi Penyemprotan di Nursery:

  • Jangkauan semprot satu unit drone setara dengan beban kerja 40 tenaga kerja manual.
  • Lebar sebaran cairan kimia mencapai 8 meter dalam sekali lintasan.
  • Operasional satu unit drone hanya membutuhkan dua orang petugas pelaksana di lapangan.

Peralihan ini memberikan perlindungan tanaman yang lebih baik terhadap serangan hama penyakit seperti ulat kantong. Kecepatan penanganan pada fase bibit sangat menentukan kualitas pertumbuhan pohon kelapa sawit saat dipindahkan ke lahan utama nantinya.

Manajemen perusahaan kini memiliki opsi untuk mengelola unit drone secara mandiri guna menekan ketergantungan pada vendor pihak ketiga. Investasi alat ini dinilai sebanding dengan pengurangan biaya upah dan jaminan kesehatan bagi puluhan pekerja.***

Bagikan :

Artikel Lainnya