Mahasiswa ITB Sulap Limbah POME Jadi Biofertilizer, Ampuh Tangkal Hama Tomat Momotaro

Tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung menciptakan inovasi pupuk organik cair berbahan limbah cair kelapa sawit melalui proses fermentasi mikrobiologis. Biofertilizer ini berfungsi meningkatkan produktivitas serta memberikan proteksi alami hama pada komoditas Tomat Momotaro.

BERITA

Arsad Ddin

31 Januari 2026
Bagikan :

Tiga mahasiswa ITB yang tergabung dalam tim althara. (Foto: ITB)


Bandung, HAISAWIT – Tiga mahasiswa Program Studi Teknologi Pascapanen Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Tim Althara sukses menciptakan inovasi pupuk organik cair berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME).

Inovasi bertajuk biofertilizer ini lahir untuk menjawab tantangan pengelolaan limbah industri sawit yang masif melalui fermentasi mikrobiologis guna meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan proteksi alami terhadap serangan hama pada tanaman hortikultura.

Perwakilan Tim Althara, Naveed Muhammad Falah Brahmantika, menjelaskan bahwa ide pemanfaatan limbah POME muncul setelah melakukan kunjungan lapangan ke Mujagi Farm di wilayah Cianjur untuk melihat potensi sinergi antara perkebunan dan pertanian.

“Tomat Momotaro adalah komoditas bernilai tinggi yang membutuhkan pupuk berkualitas. Melalui inovasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap limbah bisa berubah menjadi harapan, baik bagi petani sawit maupun petani hortikultura,” ujar Naveed, dikutip dari laman ITB, Sabtu (31/01/2026).

Pemanfaatan POME sebagai bahan baku utama pupuk fermentasi ini dinilai memiliki peluang nyata dalam menekan penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis yang selama ini mendominasi biaya produksi para petani.

Berikut adalah beberapa keunggulan dan detail teknis inovasi biofertilizer berbasis limbah cair kelapa sawit yang dikembangkan oleh Tim Althara:

  • Menggunakan metode fermentasi mikrobiologis untuk mengubah limbah berbahaya menjadi nutrisi tanaman.
  • Mampu memberikan proteksi alami terhadap hama spesifik pada komoditas Tomat Momotaro.
  • Mendukung penerapan ekonomi sirkular antara sektor perkebunan kelapa sawit dan pertanian hortikultura.
  • Berpotensi meningkatkan daya saing produk ekspor hortikultura premium Indonesia di pasar global.

Agnes Ruth Savira dan Maritza Kayla Zasky Malikha yang mendampingi Naveed menekankan bahwa solusi ini mampu memperkuat struktur tanah sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem lahan pertanian tanpa merusak lingkungan sekitar.

“Pelajaran berharga yang kami dapat adalah jangan mudah menyerah. Justru dari tantangan, lahir peluang untuk berinovasi. Semoga pengalaman ini bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah, mencoba, dan berkolaborasi demi memberi dampak positif bagi masyarakat,” ungkap Naveed.

Karya ilmiah tersebut dipresentasikan dalam ajang Festival Engineering Api Biru (FEAB) 2025 di Jakarta yang mengusung tema besar akselerasi dampak positif bagi kemajuan pembangunan dan teknologi di skala nasional.

Implementasi pupuk dari limbah POME ini juga membuka peluang komersialisasi produk biofertilizer cair yang lebih terjangkau bagi petani kecil serta meningkatkan nilai tambah bagi pabrik pengolahan kelapa sawit setempat.

Integrasi teknologi pascapanen dalam pengelolaan limbah industri sawit menjadi langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan pangan melalui ketersediaan pupuk organik yang melimpah dari sumber daya lokal yang tersedia secara melimpah.

Final kompetisi FEAB 2025 telah berlangsung pada Senin (07/07/2025) di Jakarta, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi malam penganugerahan bagi para inovator muda berprestasi pada hari Kamis (17/07/2025).***

Bagikan :

Artikel Lainnya