Sakit Kepala Hingga GERD: Sisi Lain Gegar Budaya Karyawan Baru di Perkebunan Sawit

Fenomena "kaget kebun" menjadi tantangan unik bagi para pencari kerja di sektor hijau ini. Selain menguji mental, masa penyesuaian di area perkebunan sering kali berdampak langsung pada kondisi kesehatan fisik para karyawan baru.

BERITA

Arsad Ddin

3 Januari 2026
Bagikan :

Ilustrasi Perumahan di Perkebunan Kelapa Sawit - HaiSawit/Arsad Ddin

Jakarta, HaiSawit – Bekerja di sektor kelapa sawit ternyata menyimpan sisi emosional yang menantang. Gejala fisik seperti sakit kepala hingga gangguan lambung kini kerap menghantui para karyawan baru akibat serangan gegar budaya saat mulai menetap di lingkungan perkebunan.

Manager Hubungan Industrial PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Kolonel Inf (Purn) Jonnie Koentara, mengungkapkan bahwa banyak personel mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental akibat sulitnya beradaptasi dengan lingkungan kerja kebun.

Jonnie Koentara menjelaskan bahwa fenomena ini biasanya bermula dari fase euforia saat pertama kali diterima bekerja di perusahaan besar milik negara dengan skala pengelolaan jutaan hektar.

“Banyak yang masuk dengan rasa bangga. Dapat kerja di BUMN besar, mengelola sawit jutaan hektar. Cerita ke keluarga, ke kampung. Itu euforia,” ujar Jonnie Koentara, dikutip dari laman Agrinas Palma Nusantara, Sabtu (03/01/2026).

Kegagalan melewati fase awal ini sering kali memicu gejala klinis yang nyata. Para pekerja melaporkan keluhan fisik mulai dari sakit kepala, perut tidak nyaman, kehilangan selera makan, hingga gangguan lambung.

Selain dampak fisik, gegar budaya ini menyerang sisi kognitif dan emosional. Karyawan menjadi mudah marah, sulit berkonsentrasi, sering lupa, hingga muncul keinginan kuat untuk segera pulang meninggalkan lokasi penugasan.

Jonnie menyebutkan bahwa kelompok yang paling rentan mengalami tekanan ini adalah mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman sebelumnya di sektor perkebunan kelapa sawit.

“Mereka tidak tahu apa itu berondolan, piringan, kernel. Ketemu kebun ratusan hektare, langsung bingung,” ungkap pria lulusan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran tersebut saat menjelaskan kebingungan para pekerja baru di lapangan.

Kesenjangan antara ekspektasi jabatan dengan realitas fasilitas di lapangan menjadi pemicu frustrasi. Lokasi yang jauh dan akses logistik yang terbatas membuat masa transisi karyawan menjadi sangat berat.

Setiap individu memiliki ketahanan yang berbeda dalam menghadapi perubahan lingkungan yang drastis. Ada yang mampu beradaptasi dengan cepat, namun tidak sedikit yang memilih berhenti dalam waktu singkat.

“Ada yang dua hari menyerah. Ada yang dua bulan dan banyak juga yang tetap bertahan sejak APN berdiri, hingga hari ini..,” tutur Jonnie mengomentari beragamnya respons karyawan terhadap dinamika kerja.

Perjalanan menghadapi fase frustrasi hingga mencapai adaptasi penuh merupakan siklus alami bagi setiap pekerja di sektor ini. Ketahanan fisik dan mental menjadi aset paling berharga agar setiap individu mampu melewati masa transisi tanpa harus menyerah pada gejala kesehatan yang muncul.***

Bagikan :

Artikel Lainnya