Rekapitulasi Harga Komoditas Sawit Menunjukkan Grafik Mendaki di Seluruh Bursa

Laporan penutupan bursa menunjukkan kenaikan harga komoditas sawit secara serentak di ICDX, JFX, hingga bursa internasional MDEX. Kenaikan nilai transaksi fisik pada akhir Januari 2026 ini mencerminkan penguatan grafik harga global secara signifikan.

BERITA

Arsad Ddin

3 Februari 2026
Bagikan :

Ilustrasi buah kelapa sawit - HaiSawit

Jakarta, HAISAWIT – Laporan penutupan bursa fisik pada tanggal 29 Januari 2026 memperlihatkan pergerakan harga komoditas kelapa sawit yang serentak menguat pada berbagai pasar perdagangan internasional maupun domestik Indonesia.

Kenaikan harga ini tersebar merata mulai dari pasar berjangka hingga transaksi fisik di lapangan. Seluruh instrumen perdagangan menunjukkan angka hijau yang mencerminkan tingginya permintaan pasar global saat ini.

Dilansir dari rri.co.id, Selasa (03/02/2026), harga Crude Palm Oil (CPO) pada Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) meningkat menjadi Rp15.290 per kilogram dari posisi sebelumnya sebesar Rp15.115 per kilogram.

Peningkatan harga pada bursa komoditas tersebut diikuti pula oleh pergerakan di Jakarta Futures Exchange (JFX). Produk Olein (OLE) di bursa ini tercatat mengalami kenaikan harga menjadi Rp17.865 per kilogram.

KPB Nusantara yang menjadi rujukan utama transaksi fisik di dalam negeri turut mencatatkan kenaikan signifikan. Harga CPO pada lembaga ini mencapai Rp15.375 per kilogram untuk lokasi penyerahan tertentu.

Kondisi pasar luar negeri juga mendukung penguatan harga di dalam negeri secara signifikan. Pergerakan harga di Malaysia Derivatives Exchange (MDEX) menjadi indikator utama bagi para pelaku usaha di sektor perkebunan.

Berikut adalah detail harga penutupan pada beberapa bursa penting:

  • MDEX CPO mencatatkan angka 4.220 Ringgit Malaysia (MYR) per ton.
  • RBD Olein asal Malaysia berada pada level US$ 1.125,00 per ton.
  • Chicago Board of Trade (CBOT) Soybean mencapai 1.072,2 sen per gantang.

Data tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak nabati dunia sedang berada dalam fase yang sangat aktif. Minyak kedelai di bursa Chicago memberikan tekanan positif bagi pergerakan harga komoditas sawit global.

Pasar Eropa melalui pusat perdagangan di Rotterdam tetap mempertahankan harga yang cukup kompetitif bagi para eksportir. CPO asal Indonesia dan Malaysia diperdagangkan pada level US$ 1.290 per ton.

Nilai tukar mata uang asing turut memberikan pengaruh pada akumulasi harga akhir di pasar internasional. Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS) berada pada posisi Rp16.723 saat transaksi berlangsung.

Berikut adalah perbandingan kurs yang tercatat selama periode perdagangan tersebut:

  • Nilai tengah Ringgit Malaysia berada pada angka 3,916 per Dollar AS.
  • Konversi satu Ringgit Malaysia terhadap Rupiah setara dengan Rp4.270,45.

Kekuatan harga fisik ini memberikan gambaran objektif mengenai ketersediaan stok di gudang-gudang penimbunan. Aktivitas perdagangan di bursa fisik mencerminkan kebutuhan industri hilir yang tetap tinggi terhadap bahan baku.

Para pelaku industri mengacu pada data ini untuk menentukan langkah perdagangan pada awal Februari mendatang. Rekapitulasi harga ini menjadi dasar penting bagi penentuan harga tandan buah segar di tingkat petani.

Seluruh data transaksi menunjukkan bahwa sektor perkebunan kelapa sawit tetap menjadi motor penggerak ekonomi yang stabil. Grafik pendaki pada akhir Januari memberikan optimisme bagi stabilitas pendapatan negara dari sektor ekspor.***

Bagikan :

Artikel Lainnya