
Isnanda Nuriskasari memaparkan disertasi mengenai pemanfaatan limbah tandan kosong kelapa sawit menjadi bahan baku grafit baterai ion litium dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Dekanat FTUI, Senin (05/01/2026).
Jakarta, HAISAWIT – Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) memperkenalkan inovasi pemanfaatan limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan baku grafit untuk anoda baterai ion litium dalam sidang doktoral, Senin (05/01/2026).
Langkah riset ini menjadi solusi strategis saat produksi minyak bumi menurun dan kebutuhan baterai kendaraan listrik meningkat. Penggunaan biomassa lokal bertujuan menggantikan grafit tambang yang ketersediaannya terbatas serta merusak ekosistem.
Peneliti sekaligus Doktor Departemen Teknik Metalurgi dan Material FTUI, Isnanda Nuriskasari, menjelaskan teknis pengolahan limbah tersebut menggunakan metode grafitisasi katalitik dengan bantuan katalis berbasis besi dan kombinasi besi–nikel agar proses lebih efisien.
“Secara sederhana, penelitian ini mempelajari bagaimana pengaruh jenis katalis, komposisi katalis, dan temperatur proses terhadap kualitas grafit yang dihasilkan. Hasilnya menunjukkan bahwa grafit dari TKKS memiliki struktur yang lebih teratur, daya hantar listrik yang baik, serta kemampuan menyimpan ion litium yang tinggi," ujar Isnanda, dikutip dari laman Fakultas Teknik UI, Selasa (13/01/2026).
Isnanda menambahkan bahwa material grafit hasil olahan limbah sawit ini telah melalui serangkaian pengujian laboratorium. Hasil pengujian menunjukkan performa yang sangat kompetitif untuk menjadi komponen utama baterai masa depan.
"Ketika diuji sebagai anoda baterai ion litium, material ini menunjukkan kapasitas yang besar, kinerja yang stabil, dan ketahanan yang baik setelah digunakan berulang kali dalam siklus pengisian dan pengosongan baterai,” ungkapnya.
Keunggulan Grafit Berbasis TKKS
Riset ini membuktikan bahwa limbah kelapa sawit memiliki nilai strategis tinggi bagi industri manufaktur baterai nasional. Pemanfaatan biomassa ini berpotensi besar menekan biaya produksi baterai sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
Beberapa fakta teknis dari hasil penelitian tersebut meliputi:
- Struktur grafit yang dihasilkan jauh lebih teratur.
- Memiliki konduktivitas listrik yang optimal untuk mobilitas elektron.
- Mampu menyimpan ion litium dalam jumlah besar secara konsisten.
Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi terhadap temuan ini. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam memecahkan masalah ketersediaan material maju lokal.
“Penelitian ini membuktikan bahwa limbah biomassa lokal dapat diolah menjadi material maju yang mendukung teknologi masa depan, khususnya di bidang energi,” jelas Prof. Kemas dalam keterangannya.
Isnanda Nuriskasari lulus dengan predikat summa cum laude dan tercatat sebagai doktor ke-80 Departemen Teknik Metalurgi dan Material FTUI. Sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Akhmad Herman Yuwono, M.Phil.Eng.
Keberhasilan riset tersebut memperkuat posisi Indonesia dalam mengolah limbah sawit menjadi komoditas bernilai tambah tinggi. Temuan ini memberikan prospek cerah bagi hilirisasi industri kelapa sawit nasional yang lebih berkelanjutan.***