Produktivitas Sawit Menurun Akibat Hama dan Kekurangan Unsur Hara, Disbun Kukar Lakukan Penanganan Langsung di Kebun Petani Pendingin

Produktivitas kebun sawit rakyat di Kelurahan Pendingin, Kutai Kartanegara, dilaporkan menurun akibat serangan hama rayap dan kekurangan unsur hara. Dinas Perkebunan setempat melakukan identifikasi langsung dan memberi bantuan pengendalian.

BERITA

Arsad Ddin

6 Agustus 2025
Bagikan :

Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Kartanegara melakukan kegiatan identifikasi dan pengendalian hama penyakit tanaman sawit di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sanga-Sanga, Selasa (22/7/2025). (Foto: Dok. Disbun Kukar)

Kukar, HAISAWIT – Penurunan hasil panen kelapa sawit dilaporkan terjadi di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sanga-Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara. Masalah utama berasal dari serangan hama dan kekurangan unsur hara pada tanaman.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, tim dari Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Kartanegara mendatangi kebun petani setempat. Kegiatan identifikasi lapangan dilakukan di kebun milik Kelompok Tani Karya Tani pada 22 Juli 2025.

Dilansir dari laman Disbun Kukar, Rabu (6/8/2025), ketidakseimbangan unsur hara seperti magnesium dan fosfor dapat memicu gejala klorosis pada daun. Kekurangan kalium juga berisiko menyebabkan buah sawit kecil dan mudah rontok.

Selain persoalan nutrisi tanaman, hama rayap jenis Coptotermes curvignathus ditemukan menyerang akar dan batang. Serangan ini umumnya terjadi di lahan bekas hutan maupun tanah gambut.

Tim lapangan dari Disbun Kukar yang hadir di lokasi terdiri atas penyuluh dan staf teknis. Mereka melakukan observasi langsung di kebun dan memberikan penjelasan kepada petani mengenai gejala serangan.

Langkah tindak lanjut berupa pemberian bantuan agen pengendali hayati dan pestisida dilakukan usai proses identifikasi. Bantuan tersebut ditujukan sebagai stimulan untuk pengendalian awal terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Kegiatan ini dilakukan sebagai respons atas laporan petani terkait menurunnya kualitas dan kuantitas tandan buah segar. Gejala yang paling sering terlihat adalah daun menguning dan batang yang mulai rapuh.

Data dari lapangan menunjukkan bahwa kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi produktivitas perkebunan rakyat jika tidak ditangani tepat waktu. Beberapa kebun menunjukkan gejala defisiensi hara yang cukup parah.

Kegiatan pendampingan tersebut juga mencakup edukasi teknis tentang cara mengenali tanda serangan sejak dini. Selain itu, petani diperkenalkan pada metode pengendalian hama terpadu berbasis ekosistem.

Disbun Kukar mencatat bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya untuk mendukung peningkatan produksi dan perlindungan tanaman perkebunan. Identifikasi dan pengendalian langsung dilakukan pada lokasi terdampak.***

Bagikan :

Artikel Lainnya