BPDP dan Ditjenbun Gandeng BPI Tingkatkan Kompetensi Pekebun Sawit Riau Pelatihan Gelombang ke-5 Hadirkan 115 Pekebun Asal Bengkalis dan Kuantan Singingi

Pada angkatan kali ini, pelatihan mengusung tema “Budidaya Tanaman Kelapa Sawit” dan melibatkan 115 peserta yang berasal dari Kabupaten Bengkalis dan Kuantan Singingi. Para peserta dibagi ke dalam empat angkatan dengan jumlah sekitar 30 peserta per angkatan

BERITA

Sahnia Mellynia

22 Juli 2025
Bagikan :

Riau, HAISAWIT — Upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pekebun kelapa sawit di Provinsi Riau terus dilakukan secara konsisten oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Melalui sinergi bersama lembaga pelatihan profesional Best Planter Indonesia (BPI), pelatihan bagi pekebun sawit kini telah memasuki gelombang ke-5.

Pada angkatan kali ini, pelatihan mengusung tema “Budidaya Tanaman Kelapa Sawit” dan melibatkan 115 peserta yang berasal dari Kabupaten Bengkalis dan Kuantan Singingi. Para peserta dibagi ke dalam empat angkatan dengan jumlah sekitar 30 peserta per angkatan. Pelatihan ini diselenggarakan secara intensif, menggabungkan sesi kelas serta kunjungan lapangan guna memberikan pemahaman menyeluruh yang aplikatif bagi para pekebun.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Dr. Syahrial Abdi, A.P., M.Si, menegaskan pentingnya peran pekebun sawit sebagai penopang ekonomi daerah. Ia mengajak para peserta untuk mengikuti pelatihan dengan penuh semangat. “Dana pungutan ekspor sawit harus kembali memberi manfaat nyata kepada pekebun. Pelatihan ini adalah salah satu bentuk nyata dari pemanfaatan tersebut, untuk mendorong peningkatan produktivitas,” ujarnya.

Direktur Operasional BPI, Friyandito, SP, MM, menjelaskan bahwa pelatihan tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga mencakup praktik lapangan. Dalam sesi kunjungan, peserta dibawa langsung ke kebun milik PT Arindo Trisejahtera, perusahaan di bawah First Resources Group, yang telah menerapkan praktik Best Management Practice (BMP). Menariknya, kebun ini telah mencatat produktivitas mencapai 20 ton TBS/ha/tahun sejak usia tanaman memasuki TM1, dengan rendemen minyak (Oil Extraction Rate) mencapai 29%.


“Kami berharap para pekebun dapat meniru penerapan teknis dari kebun percontohan ini dan membawa pulang ilmu yang bisa langsung diterapkan, sehingga dalam waktu dekat produktivitas bisa meningkat hingga minimal 25 ton TBS/ha/tahun,” tambah Friyandito.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkalis, Mohammad Azmir, S.Hut, M.Sc, menyampaikan pentingnya menyesuaikan materi pelatihan dengan kondisi wilayah. “Sekitar 60% lahan di Bengkalis adalah tanah gambut, maka kami harapkan materi pelatihan dapat mengakomodasi karakteristik tersebut,” ungkapnya.

Dari Kabupaten Kuantan Singingi, Raja Rafli, SP, yang mewakili Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan, turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan. Ia juga menyampaikan bahwa hingga 2025, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Kuansing telah terealisasi seluas 6.400 hektare, dan kabupaten tersebut bahkan telah menerima dukungan untuk pengembangan industri minyak goreng rakyat.

Dalam kesempatan yang sama, Founder BPI, Ir. Heri DB, MM, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari strategi besar dalam mendorong produktivitas kebun rakyat hingga mendekati capaian kebun perusahaan swasta yang saat ini sudah mampu menembus 30 ton TBS/ha/tahun. “Jika potensi tanaman dapat dioptimalkan, maka kesejahteraan pekebun akan meningkat, dan efek dominonya akan dirasakan seluruh ekosistem industri sawit,” tegasnya.

Dalam kolaborasi ini, BPDP berperan menyediakan pendanaan, Ditjenbun bertanggung jawab menyusun modul pelatihan dan seleksi peserta, sementara BPI melaksanakan pelatihan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan oleh regulator.

Pelatihan ini tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, tetapi juga bagian dari langkah strategis menciptakan kebun sawit rakyat yang lebih produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi di masa depan.

Bagikan :

Artikel Lainnya