
Pemkab Seruyan mengikuti pertemuan Diskusi Gawi Bapakat yang melibatkan lembaga donor global dalam kegiatan yang digelar di Kuala Pembuang, Selasa (18/11/2025). (Foto: Diskominfo Seruyan)
Seruyan, HAI SAWIT – Pemerintah Kabupaten Seruyan mendorong percepatan sertifikasi Sawit Berkelanjutan melalui kerja sama dengan sejumlah mitra global yang selama ini mendukung program keberlanjutan di wilayah tersebut. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat tata kelola dan pengembangan ekonomi daerah.
Pemkab menilai kolaborasi internasional menjadi bagian penting dalam pembangunan Sawit Berkelanjutan di Seruyan. Kerja sama ini melibatkan QAI, Earthcare Foundation (ECF), dan RS Group yang terlibat dalam pendampingan teknis dan penguatan praktik lapangan.
Pada kesempatan pertemuan bersama mitra global itu, Bupati Seruyan Ahmad Selanorwanda menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan dalam pengembangan wilayah berbasis Sawit Berkelanjutan.
“Kami berterima kasih kepada seluruh mitra internasional yang telah menunjukkan komitmennya bagi Seruyan. Kehadiran QAI, ECF, dan RS Group telah memberikan nilai tambah dalam upaya kami mengembangkan model pengelolaan wilayah yang lebih berkelanjutan,” ujar Bupati Ahmad Selanorwanda, dalam pertemuan yang berlangsung di Kuala Pembuang, Selasa (18/11/2025), seperti dikutip dari laman MMCKalteng, Senin (24/11/2025).
Pemkab menjelaskan bahwa Kabupaten Seruyan memiliki luas wilayah lebih dari 15 ribu kilometer persegi dengan karakter ekosistem yang beragam. Situasi ini menuntut pola pengelolaan Sawit Berkelanjutan yang adaptif, termasuk pengaturan ruang dan pemanfaatan sumber daya.
Dalam penjelasannya, Bupati turut menggambarkan peran sektor sawit sebagai penopang ekonomi daerah. Ia menyebut komoditas ini berpotensi besar bagi pembangunan Seruyan.
“Seruyan memiliki potensi besar dengan populasi sekitar 158 ribu jiwa, didominasi usia produktif. Sektor kelapa sawit adalah penggerak ekonomi, dan potensi ini harus dikelola secara bijak,” katanya.
Data pemerintah daerah menyebutkan terdapat sekitar 9.000 petani swadaya yang terdaftar, dengan sebagian telah mengantongi sertifikasi keberlanjutan. Selain itu, perusahaan besar swasta di Seruyan juga memiliki area perkebunan sawit hingga ratusan ribu hektare.
Pemkab menyampaikan sejumlah tantangan dalam pengembangan Sawit Berkelanjutan, termasuk kebakaran lahan, persoalan tenurial, dan perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi. Bupati menegaskan perlunya kerja bersama untuk menghadapi persoalan tersebut.
“Kami menyadari bahwa perubahan yang kami inginkan tidak mudah. Tantangan seperti kebakaran lahan dan konflik tenurial membutuhkan penyelesaian yang kolaboratif,” katanya.
Pemerintah daerah menerapkan pendekatan yurisdiksi sebagai landasan koordinasi multipihak untuk penguatan program Sawit Berkelanjutan. Pendekatan ini disertai langkah konkret seperti praktik pertanian tanpa bakar dan pengembangan agroforestri di wilayah perkebunan.
Bupati menyampaikan bahwa keberlanjutan memerlukan proses panjang yang didorong oleh kolaborasi lintas pihak. Ia menilai kerja bersama menjadi kunci untuk memperkuat program sertifikasi sawit di daerah.
“Keberlanjutan bukan hanya slogan, tetapi perjalanan panjang yang memerlukan kepercayaan, konsistensi, dan kerja bersama. Kami yakin bahwa kolaborasi seperti inilah yang akan membawa perubahan nyata di Seruyan,” katanya.
Pemkab menyatakan bahwa kerja sama dengan mitra global akan diarahkan untuk memperkuat posisi Seruyan sebagai wilayah yang konsisten mengembangkan Sawit Berkelanjutan. Upaya tersebut meliputi peningkatan pendampingan teknis dan program sertifikasi yang lebih terstruktur.***