
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menghadiri Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Price Outlook di Bali, Kamis (13/11/2025). (Foto: Bappenas)
Bali, HAI SAWIT - Bappenas menekankan urgensi percepatan Hilirisasi Sawit sebagai langkah memperkuat ekonomi hijau nasional sekaligus mendorong industrialisasi berkelanjutan yang sejalan dengan agenda pembangunan Indonesia Emas 2045.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam gelaran 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Price Outlook (IPOC) 2025 di Bali, yang menempatkan Hilirisasi Sawit sebagai pilar transformasi industri nasional.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menjelaskan arah pembangunan sawit berkelanjutan yang berpijak pada pertumbuhan ekonomi sekaligus perlindungan lingkungan, termasuk penguatan struktur hilir sawit dan pemanfaatannya bagi ekonomi hijau.
“Kita akan terus menyeimbangkan pertumbuhan dengan tanggung jawab pengelolaan lingkungan, memastikan bahwa kemajuan kita tidak mengorbankan alam maupun generasi berikutnya," ujar Rachmat Pambudy, dikutip dari laman Bappenas, Kamis (27/11/2025).
Ia menambahkan bahwa prinsip pembangunan sawit juga mengacu pada nilai budaya Bali yang menekankan keselarasan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial dalam kerangka besar Hilirisasi Sawit.
“Dengan berpedoman pada semangat kearifan lokal Bali, Tri Hita Karana, yang mengusung keselarasan antara Tuhan, manusia, dan alam, kita membangun industri sawit global yang tidak hanya produktif, tetapi juga etis, inklusif, dan manusiawi,” ungkapnya.
Bappenas menilai Indonesia memiliki peluang besar sebagai pemasok CPO global, sehingga penguatan rantai nilai hilir sawit menjadi langkah penting untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi dan memperluas kontribusi sektor ini bagi ekonomi hijau.
Rachmat Pambudy juga menegaskan perlunya peningkatan kapasitas petani dalam mengikuti pengembangan Hilirisasi Sawit melalui dukungan teknologi hingga akses pembiayaan yang lebih mudah dijangkau.
“Kita harus membantu petani kecil untuk modernisasi, mendapatkan akses pembiayaan, mengadopsi teknologi yang lebih baik, dan meningkatkan produktivitas agar mereka dapat bersaing dan berkembang dalam rantai nilai global,” katanya.
Bappenas turut mendorong pengembangan biofuel, sustainable aviation fuel (SAF), dan sektor oleokimia sebagai bagian dari langkah memperluas spektrum Hilirisasi Sawit sekaligus memperkuat posisi Indonesia pada ekonomi hijau global.
Selain itu, kolaborasi lintas pemangku kepentingan disebut sebagai langkah penting dalam membangun industri sawit berkelanjutan yang berorientasi pada energi bersih dan peningkatan nilai tambah nasional.
“Mari bekerja bersama demi manfaat bersama, dengan semangat no one left behind. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, petani kecil, konsumen, dan seluruh pemangku kepentingan agribisnis sawit, kita dapat menajdikan sawit sebagai kekuatan peradaban untuk kebaikan dunia,” tutup Rachmat Pambudy.
Bappenas mendorong penguatan Hilirisasi Sawit melalui peningkatan produktivitas, penguatan rantai pasok, serta pengembangan industri turunan sawit untuk mendukung ekonomi hijau nasional.***