Menko Airlangga Tekankan Penguatan Mutu Minyak Sawit untuk Stabilitas Ekonomi Nasional

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya penguatan mutu minyak sawit untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dalam IPOC 2025, ia menjelaskan langkah pemerintah memperkuat daya saing melalui hilirisasi, sertifikasi ISPO, dan sistem informasi yang terintegrasi.

BERITA

Arsad Ddin

14 November 2025
Bagikan :

Menko Airlangga Hartarto membuka The 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Bali, Kamis (13/11/2025). (Foto: ekon.go.id)

Bali, HAI SAWIT – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa penguatan mutu minyak sawit menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia menilai performa ekspor sawit sepanjang 2025 memberi ruang penguatan yang lebih besar untuk industri ini.

Dalam forum The 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Bali, Airlangga menjelaskan bahwa kualitas produk sawit berperan penting terhadap posisi Indonesia di pasar global. Ia menilai peningkatan mutu dapat memperkuat daya saing seiring naiknya kebutuhan pasar dunia.

Pada kesempatan itu, Airlangga Hartarto menyampaikan pandangannya mengenai kontribusi sawit terhadap pendapatan negara, hilirisasi, dan pengembangan energi berbasis nabati. Ia menekankan bahwa upaya peningkatan kualitas perlu dijalankan secara berkelanjutan agar industri sawit tetap kokoh di tengah dinamika perdagangan.

“Minyak sawit akan terus memainkan peran kunci sebagai sumber pendapatan, energi, inovasi, dan kekuatan nasional. Kita tidak boleh berhenti pada ekspor bahan mentah. Melalui strategi hilirisasi, kita ingin meningkatkan nilai tambah, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, dan memperkuat industri kita,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dikutip dari laman Kementerian Perekonomian RI, Jumat (14/11/2025).

Airlangga menambahkan bahwa hilirisasi membutuhkan dukungan mutu minyak sawit yang lebih kuat, terutama dalam menghadapi tuntutan pasar global. Menurutnya, penguatan kualitas menjadi modal penting untuk mempertahankan posisi Indonesia sebagai produsen utama minyak sawit dunia.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pengembangan energi bersih berbasis sawit. Program B40 yang mulai berjalan pada 2024 tercatat mampu menekan impor bahan bakar fosil lebih dari 15,6 juta kiloliter serta mengurangi emisi sekitar 41,46 juta ton setara CO₂.

Airlangga Hartarto turut menyinggung pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis sawit. Program ini melibatkan kerja sama PT Pindad dan BPDP dalam pembangunan fasilitas produksi yang diarahkan mendukung kebutuhan industri pertahanan.

Dalam sambutannya, Airlangga juga menyorong pentingnya Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2025 yang memperkuat sertifikasi ISPO. Regulasi ini diharapkan menjadi standar utama dalam menjaga mutu produk sawit serta meningkatkan kepercayaan pasar internasional terhadap industri nasional.

Untuk mendukung pelaksanaan sertifikasi, pemerintah sedang menyiapkan Sistem Informasi ISPO. Platform digital ini dirancang untuk menghubungkan data perkebunan, sertifikasi, hingga perdagangan sawit sehingga memastikan proses pelacakan berlangsung real-time.

Airlangga Hartarto menilai integrasi sistem tersebut akan membantu memperkuat kualitas dan tata kelola sawit nasional. Langkah ini juga diharapkan menjadi bagian dari strategi panjang pembangunan industri sawit yang berorientasi pada standar global.

Acara IPOC 2025 turut dihadiri pejabat kementerian dan pemangku kepentingan industri sawit, termasuk Bappenas, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertanian, GAPKI, serta panitia konferensi. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap penguatan mutu sawit dan arah kebijakan pemerintah di sektor ini.***

Bagikan :

Artikel Lainnya