
Gambar Ilustras Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) - Haisawit/Arsad Ddin
Jakarta, HAI SAWIT – Pemanfaatan limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) untuk bahan baku biokomposit dinilai membuka peluang besar bagi industri helm nasional yang tengah membutuhkan alternatif pengganti bahan impor.
Periset Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN, Sigit Setiawan, menjelaskan hasil simulasi kebijakan yang memproyeksikan potensi penyerapan biokomposit sawit oleh industri helm dalam skala besar.
“Simulasi riset kebijakan menunjukkan jika sepuluh persen produksi helm nasional (sekitar 1 juta unit) menggunakan bahan baku biokomposit sawit, Indonesia berpotensi mengurangi ketergantungan impor bahan baku senilai Rp110,4 miliar dan menciptakan permintaan bahan baku biokomposit domestik sebesar Rp21 miliar,” ujar Sigit Setiawan, dikutip dari BRIN, Senin (01/12/2025).
Paparan tersebut disampaikan dalam gelaran Macroeconomics and Finance Talks (Mafin Talks) ke-27 yang membahas solusi pengelolaan limbah sawit berbasis teknologi biokomposit, bertajuk “Addressing Palm Waste to Promote Inclusive Green Growth Through Biocomposites”, Selasa (26/11/2025).
Kepala Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN, Zamroni Salim, menilai forum ini menjadi ruang kolaboratif untuk merumuskan kebijakan pengelolaan limbah sawit yang mampu memberi manfaat ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan.
“Fokus diskusi Mafin Talks kali ini adalah bagaimana kita menghadapi tantangan besar limbah sawit tersebut. Bagaimana penanganannya bisa bermanfaat, mendukung inklusivitas, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional,” ujarnya.
Dari sisi industri, CEO PT Intersisi Material Maju, Andika Krisnawati, melihat limbah TKKS sebagai sumber bahan baku bernilai tinggi yang dapat mendorong peningkatan daya saing produk biokomposit termasuk helm.
“Biokomposit adalah katalisator hilirisasi dan alat pemberdayaan UMKM yang krusial, membuka jalan bagi terwujudnya pertumbuhan hijau yang inklusif di Indonesia,” ujarnya.
Inovasi berbasis TKKS juga dikembangkan melalui riset jangka panjang yang menghasilkan material biokomposit berkualitas untuk kebutuhan industri pelindung kepala hingga rompi antipeluru.
Produksi helm motor bermerek green composite helmet (GCH) menjadi salah satu bukti implementasi material tersebut yang telah menunjukkan keunggulan daya redam benturan dalam uji performa produk.
Sejumlah pihak memandang peluang penggunaan biokomposit sawit dalam industri helm sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan bahan impor dan mendukung pertumbuhan industri nasional berbasis biomassa.***